Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan dunia usaha, untuk membangun budaya tangguh bencana. Dorongan ini disampaikan dalam rapat koordinasi peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta yang digelar di Jakarta, Selasa (1/4/2026).
Rapat dipimpin Asisten Deputi Penanganan Bencana Kemenko PMK, Merry Efriana. Dalam pertemuan tersebut, Kemenko PMK menekankan pentingnya sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat guna meningkatkan kesiapsiagaan bencana secara menyeluruh.
“Peringatan ini harus menjadi pengingat kolektif bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi pentahelix, kita memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana secara lebih sistematis dan berkelanjutan,” ujar Merry.
Kemenko PMK menegaskan, peringatan dua dekade Gempa Yogyakarta tidak hanya bertujuan mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kapasitas nasional dalam mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis pembelajaran.
Dalam kesempatan itu, sektor swasta melalui PT Astra International menyatakan komitmennya untuk turut mendukung upaya mitigasi serta peningkatan kapasitas masyarakat. Keterlibatan dunia usaha dinilai strategis untuk memperluas jangkauan edukasi kebencanaan.
Selain penguatan kolaborasi, Kemenko PMK mendorong implementasi program KITA TANGGUH sebagai instrumen utama dalam membangun budaya sadar bencana di tingkat keluarga, sekolah, hingga komunitas.
Rangkaian kegiatan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta direncanakan berlangsung dari Maret hingga Juni 2026, dengan puncak acara pada 25 Mei 2026 di Candi Prambanan. Sejumlah agenda seperti pelatihan kesiapsiagaan, simulasi bencana, dan kampanye mitigasi akan digelar untuk meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat.
Kemenko PMK menyatakan sinergi lintas sektor akan terus diperkuat untuk menciptakan komunikasi publik yang efektif dan berdampak luas, sekaligus memperkokoh budaya tangguh bencana sebagai bagian dari pembangunan manusia yang berkelanjutan.