BERITA TERKINI
Jamie Dimon: Konflik Berkepanjangan Iran-AS Berisiko Dorong Harga Energi, Inflasi, dan Suku Bunga

Jamie Dimon: Konflik Berkepanjangan Iran-AS Berisiko Dorong Harga Energi, Inflasi, dan Suku Bunga

CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi menimbulkan dampak besar bagi ekonomi global. Menurut Dimon, perang dapat memicu lonjakan harga minyak dan komoditas yang membuat inflasi bertahan tinggi.

Dimon menilai kenaikan harga energi yang signifikan dan berkelanjutan dapat mendorong suku bunga naik lebih tinggi dari perkiraan pasar saat ini. Ia juga menyoroti perubahan rantai pasok global sebagai faktor yang bisa membuat inflasi menjadi lebih “lengket” atau sulit dikendalikan.

“Sekarang kita juga menghadapi potensi guncangan harga minyak dan komoditas yang signifikan dan berkelanjutan, bersamaan dengan perubahan rantai pasokan global, yang dapat menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan pada akhirnya suku bunga yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar saat ini,” kata Dimon.

Kekhawatiran inflasi akibat perang disebut telah membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Sebelumnya, pelonggaran moneter ikut mendorong sejumlah pasar saham naik hingga level rekor. Namun, tekanan baru dari konflik turut memicu pelemahan indeks di Asia dan Amerika Serikat dalam periode terakhir.

Dimon menegaskan ketidakpastian global masih tinggi. Ia menyebut hasil akhir konflik, termasuk risiko proliferasi nuklir, menjadi faktor penting yang akan memengaruhi arah ekonomi global ke depan.

“Waktu akan membuktikan apakah perang tujuan utama perang kali ini akan dicapai oleh Amerika Serikat di Iran,” ujar Dimon.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pihaknya telah melihat tuntutan dari Iran, namun menilai proposal tersebut tidak dapat diterima Washington. Trump juga menyebut Amerika Serikat siap melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, apabila tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat.

Ancaman itu disampaikan menjelang tenggat waktu yang telah ditetapkan, yakni Selasa pukul 20.00. Trump menuntut agar pihak terkait menghentikan program senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz.

Iran menyatakan telah merespons proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat dengan penolakan, terutama terkait isu gencatan senjata di Timur Tengah. Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour, menyebut gencatan senjata dinilai tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Iran, kata dia, hanya akan menerima penghentian perang secara permanen dengan jaminan tidak akan diserang kembali oleh Israel dan Amerika Serikat.

Iran juga mengajukan sejumlah syarat yang dituangkan dalam sekitar sepuluh klausul, termasuk penghentian konflik di seluruh kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, program rekonstruksi pascakonflik, serta protokol keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Hingga kini belum jelas apakah kedua pihak dapat mencapai titik temu sebelum tenggat waktu berakhir. Jika tidak tercapai kesepakatan, konflik dikhawatirkan meningkat dengan dampak besar terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global, terutama terkait jalur vital seperti Selat Hormuz.