BERITA TERKINI
Iran dan Perang Ekonomi: Pengaruh Selat Hormuz dalam Dinamika Global Pasca-Gencatan Senjata

Iran dan Perang Ekonomi: Pengaruh Selat Hormuz dalam Dinamika Global Pasca-Gencatan Senjata

WASHINGTON — Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada pekan ini dinilai hanya meredakan pertempuran di lapangan. Namun, persaingan melalui instrumen ekonomi diperkirakan tetap berlanjut dan terus membentuk arah politik serta perdagangan dunia.

Sebuah laporan Wall Street Journal (WSJ) karya Jason Douglas yang dilansir Al Mayadeen menyoroti bagaimana Teheran memanfaatkan posisinya dalam konflik terbaru. Dalam laporan bertajuk Iran Shows You Don’t Have to Be a Superpower to Wage Economic Warfare, Douglas menilai pengaruh Iran atas Selat Hormuz menunjukkan bahwa kendali terhadap jalur air strategis dapat memberi daya tawar besar dalam ekonomi global yang saling terhubung.

Selat Hormuz disebut sebagai salah satu koridor energi terpenting di dunia. Karena itu, potensi gangguan di wilayah tersebut dinilai dapat berdampak cepat pada pasar dan keamanan energi internasional.

Selama agresi AS-Israel terhadap Iran, isu penutupan Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga minyak hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan energi global dan disebut ikut menekan Washington untuk mendorong de-eskalasi.

Presiden AS Donald Trump kemudian menyetujui gencatan senjata dengan menyatakan tujuan militer telah tercapai, dengan syarat selat tersebut kembali dibuka. Di sisi lain, Teheran mengindikasikan rencana untuk mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah itu dipandang sebagai upaya Iran mempertahankan pengaruh jangka panjang atas jalur strategis tersebut.

Para analis menilai, langkah Iran merupakan bagian dari tren yang lebih luas, ketika negara-negara semakin sering menggunakan titik tekan ekonomi untuk mendorong tujuan kebijakan luar negeri.

Dalam konteks ini, AS disebut telah lama mengandalkan sistem keuangan berbasis dolar untuk menjatuhkan sanksi, serta memanfaatkan dominasi teknologi semikonduktor guna membatasi kemajuan militer China.

Sementara itu, China dinilai menggunakan posisi dominannya dalam pasokan mineral tanah jarang (rare earth)—yang penting bagi industri mulai dari ponsel pintar hingga sistem pertahanan—sebagai pengaruh dalam negosiasi perdagangan.