Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang Iran berpotensi meninggalkan dampak permanen terhadap ekonomi global, bahkan jika kesepakatan damai pada akhirnya tercapai. Peringatan itu disampaikan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Washington, Jumat, 10 April 2026.
Georgieva mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat akibat “luka” ekonomi yang muncul sejak konflik dimulai. IMF sebelumnya sempat berencana menaikkan proyeksi pertumbuhan global untuk 2026, namun pecahnya perang mengubah prospek tersebut.
Menurutnya, bahkan dalam skenario paling optimistis sekalipun, pertumbuhan tetap diperkirakan turun. Ia menegaskan tidak akan ada pemulihan cepat menuju kondisi ekonomi sebelum perang.
Ketidakpastian dinilai meningkat karena gencatan senjata masih rapuh dan Washington serta Teheran memiliki perbedaan pandangan. Di saat yang sama, harga minyak global naik di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perekonomian dunia.
IMF menyebut seluruh skenario dalam proyeksi terbarunya mengarah pada penurunan standar hidup secara permanen. Georgieva menjelaskan bahwa perekonomian global sebenarnya memasuki periode konflik dengan momentum yang kuat, didorong oleh investasi teknologi dan kondisi pasar keuangan yang mendukung.
Namun, kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasokan, serta melemahnya kepercayaan investor diperkirakan akan menekan pertumbuhan. Georgieva juga menyoroti ketidakpastian pemulihan produksi minyak dan gas, serta gangguan pada jalur pelayaran dan transportasi udara di kawasan.
IMF memperingatkan dampak paling berat berisiko dialami negara pengimpor minyak, negara miskin, dan negara kepulauan kecil. Lembaga itu meminta pemerintah di berbagai negara menghindari kebijakan sepihak seperti pembatasan ekspor atau kontrol harga yang dapat memperburuk kondisi global.
IMF juga menyarankan dukungan fiskal difokuskan kepada kelompok rentan, karena subsidi besar dinilai berisiko memicu inflasi. Pandangan ini diperkuat oleh Gubernur Bank of England Andrew Bailey, yang menilai ekonomi global menghadapi guncangan besar akibat konflik, disertai volatilitas pasar yang meningkat dan risiko yang tetap tinggi selama situasi di Timur Tengah belum stabil.