Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa ekonomi global berisiko menghadapi inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lemah sebagai konsekuensi dari perang Iran. IMF juga mengingatkan pasar untuk bersiap terhadap kemungkinan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, “Semua jalan sekarang mengarah pada harga lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.”
Sebelum perang, IMF sempat memperkirakan adanya sedikit peningkatan pada prospek pertumbuhan global menjadi 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Namun, ekspektasi itu berubah setelah konflik Iran memicu guncangan terhadap perekonomian global yang dinilai berpotensi tidak cepat mereda, bahkan jika perang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
IMF menyoroti dampak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran enam minggu lalu, yang memicu gangguan besar pada pasokan energi. Penutupan efektif Selat Hormuz—koridor pelayaran penting—dilaporkan menghentikan lalu lintas maritim di kawasan Teluk.
Pengiriman melalui jalur tersebut disebut mulai berangsur kembali normal. S&P Global Market Intelligence melaporkan delapan kapal tanker melintas pada Senin, dibandingkan rata-rata kurang dari dua kapal per hari pada Maret. Meski begitu, volume lalu lintas masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, ketika rata-rata 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintas per hari pada 2025.
Menurut IMF, pasokan minyak global telah berkurang 13%, sementara kerusakan juga terjadi pada rantai pasokan penting lainnya. Georgieva memperingatkan negara-negara termiskin yang tidak memiliki cadangan memadai akan menjadi pihak yang paling terdampak.
“Kita berada di dunia dengan ketidakpastian yang tinggi,” kata Georgieva. Ia menyebut situasi ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik, kemajuan teknologi, guncangan iklim, dan pergeseran demografis. Menurutnya, setelah dunia pulih dari guncangan ini, kewaspadaan terhadap guncangan berikutnya tetap diperlukan.
Kombinasi ancaman harga yang meningkat dan pertumbuhan yang melambat turut memunculkan kekhawatiran tentang kembalinya stagflasi di kalangan konsumen, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan. Perang Iran diperkirakan akan mendominasi pembahasan pada pertemuan musim semi Bank Dunia dan IMF pekan depan, dengan Georgieva dijadwalkan menyampaikan pidato pada Kamis.
Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi menilai kondisi tersebut “secara umum” merupakan stagflasi. Ia menyebutnya sebagai inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, yang menurutnya merupakan hasil dari kebijakan tarif dan kebijakan imigrasi.
Dalam konteks risiko ekonomi global lainnya, IMF sebelumnya juga menilai dampak tarif impor baru Amerika Serikat belum menimbulkan guncangan global sebesar yang diperkirakan. Namun, IMF menegaskan bahwa menyimpulkan kebijakan tersebut tidak berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai “terlalu dini dan tidak tepat.”
Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada Selasa, IMF sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan ekonomi AS untuk 2025. Kenaikan itu disebut turut dipengaruhi oleh tarif AS yang lebih kecil dari ekspektasi awal.
IMF menyebut serangkaian pengumuman perdagangan, termasuk kesepakatan antara AS dan sejumlah mitra dagang, membuat rata-rata tarif impor AS turun dari tingkat tertinggi pada April ke kisaran 10% hingga 20% untuk sebagian besar negara.
IMF memproyeksikan ekonomi dunia tumbuh 3,2% pada 2025, naik dari perkiraan Juli sebesar 3%, namun masih “jauh di bawah rata-rata pra-pandemi sebesar 3,7%.” Sementara ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2% pada 2025 dan 2,1% pada 2026, sedikit lebih tinggi dari prediksi pada Juli.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menulis bahwa Amerika Serikat menegosiasikan kesepakatan dagang dengan berbagai negara dan memberikan banyak pengecualian.