BERITA TERKINI
IMF: Perang Iran Tinggalkan Dampak Jangka Panjang pada Ekonomi Global

IMF: Perang Iran Tinggalkan Dampak Jangka Panjang pada Ekonomi Global

WASHINGTON — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang Iran berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang bagi perekonomian global, bahkan jika pada akhirnya tercapai kesepakatan damai permanen di Timur Tengah.

Dalam pidato saat gencatan senjata dinilai masih berisiko runtuh, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan efek “scarring” atau luka ekonomi dari konflik sejauh ini diperkirakan membuat pertumbuhan global tahun ini lebih lambat dibanding perkiraan awal. Ia menyebut, tanpa konflik yang pecah enam pekan lalu, IMF kemungkinan akan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026. Namun kini, bahkan skenario paling optimistis tetap mengarah pada revisi turun dan tidak ada pemulihan yang sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang.

Memasuki pekan keenam konflik, masa depan gencatan senjata bersyarat yang diumumkan Selasa lalu masih belum pasti. Hal itu dipengaruhi perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran terkait isi kesepakatan.

Di pasar, harga minyak dunia sempat menguat di tengah volatilitas pasar keuangan global. Pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur yang dinilai vital bagi perekonomian dunia.

Dalam pidato pembuka menjelang pertemuan musim semi IMF di Washington pekan depan, Georgieva menegaskan tingkat ketidakpastian masih tinggi terkait seberapa dalam perlambatan ekonomi global akibat perang. Meski demikian, seluruh skenario dalam laporan World Economic Outlook terbaru menunjukkan adanya penurunan permanen terhadap standar hidup global.

Sebelumnya, pada musim gugur lalu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% pada 2026, sedikit melambat dari 3,2% pada 2025. Proyeksi itu didukung investasi teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dinilai menjaga ketahanan ekonomi meski terjadi perang tarif Amerika Serikat.

Menurut Georgieva, ekonomi global memasuki periode konflik dengan momentum yang cukup kuat, ditopang investasi teknologi dan kondisi pasar keuangan yang relatif kondusif. Namun, ia menilai kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok, penurunan kepercayaan, serta dampak jangka panjang lain akibat perang akan tetap menekan pertumbuhan terlepas dari hasil perundingan damai.

IMF juga menyoroti ketidakpastian terkait kelancaran pengiriman melalui kawasan Teluk, serta waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan produksi minyak dan gas di fasilitas yang terdampak serangan. IMF menilai gangguan tersebut berpotensi berlangsung lebih lama.

Georgieva menambahkan, negara pengimpor minyak bersih, negara berpendapatan rendah, serta negara kepulauan kecil diperkirakan menghadapi dampak lebih berat. Ia mengingatkan pemerintah agar menghindari kebijakan sepihak seperti pembatasan ekspor atau pengendalian harga yang berpotensi memperburuk kondisi global.

IMF mendorong pemerintah memberikan dukungan yang terarah dan sementara bagi kelompok rentan. Sementara itu, pemotongan pajak besar-besaran atau subsidi energi yang mahal dinilai berisiko memicu inflasi sekaligus memperlemah kondisi fiskal yang sudah rapuh. Bank sentral pun diminta berhati-hati dalam menentukan suku bunga, namun tetap siap bertindak jika tekanan inflasi meningkat.

Pernyataan Georgieva sejalan dengan peringatan Gubernur Bank of England Andrew Bailey yang menilai ekonomi global tengah menghadapi guncangan besar akibat konflik. Bailey, yang juga memimpin Financial Stability Board, mengatakan volatilitas pasar meningkat tajam sejak perang di Timur Tengah pecah dan risiko tetap tinggi selama situasi kawasan masih tidak stabil.