International Monetary Fund (IMF), World Bank Group, dan International Energy Agency (IEA) meningkatkan koordinasi untuk merespons dampak ekonomi dari perang Iran. Langkah bersama ini dipandang sebagai sinyal bahwa gejolak yang terjadi tidak hanya bersifat regional, melainkan berpotensi mengancam stabilitas ekonomi global.
Dalam pernyataan bersama yang dikutip Reuters pada 2 April, ketiga lembaga tersebut menyatakan akan berbagi data, menyelaraskan rekomendasi kebijakan, serta menggalang dukungan bagi negara-negara yang paling terdampak. Mereka juga mulai menghitung kebutuhan pembiayaan yang dapat meningkat, terutama di negara berkembang yang ruang fiskalnya sudah terbatas.
Para pimpinan lembaga itu menekankan bahwa dampak krisis berisiko tidak merata. Negara-negara pengimpor energi, khususnya yang berpendapatan rendah, dinilai menjadi pihak paling rentan. Mereka memperingatkan dampak krisis bersifat signifikan, global, dan sangat asimetris.
Lonjakan harga energi menjadi sumber tekanan utama. Harga minyak Brent yang bertahan di kisaran US$ 100 per barel disebut telah naik sekitar 40% sejak eskalasi konflik pada akhir Februari. Kenaikan tersebut menjadi pukulan bagi negara yang bergantung pada impor energi karena mendorong biaya produksi dan mempersempit ruang kebijakan moneter di tengah risiko inflasi yang kembali menguat.
Dampaknya turut merembet ke rantai pasok global. Gangguan disebut mencakup komoditas strategis seperti helium, fosfat, dan aluminium. Sektor penerbangan juga ikut terdampak, menambah tekanan ketika pemulihan ekonomi dinilai belum sepenuhnya solid.
Tekanan juga muncul di luar sektor energi. Kenaikan harga pupuk dan pangan mulai menekan sejumlah negara dari Timur Tengah hingga Amerika Latin. IMF mengingatkan potensi krisis pangan baru, terutama bagi negara berpendapatan rendah. Gangguan pasokan nutrisi tanaman dari kawasan Teluk terjadi pada periode krusial, yakni awal musim tanam di belahan bumi utara, yang dapat memengaruhi hasil panen sepanjang tahun.
Situasi ini menempatkan banyak negara pada pilihan sulit antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan. Tanpa dukungan pembiayaan tambahan, risiko pelemahan ekonomi hingga instabilitas sosial dinilai dapat meningkat.
Ke depan, perang Iran dan dampaknya diperkirakan menjadi agenda utama dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia pada 13–18 April. Pertemuan tersebut akan menjadi ujian apakah koordinasi global mampu bergerak lebih cepat daripada eskalasi krisis.