Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis 7.000 pada perdagangan Senin (6/4/2026). IHSG ditutup di level 6.989,43, mencerminkan tekanan eksternal yang meningkat serta sentimen negatif yang masih membayangi pasar.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menekan pergerakan IHSG. Ia menyoroti dinamika perang AS-Iran yang mendorong volatilitas pasar dan harga komoditas.
Menurut Nafan, situasi terbaru turut memperbesar ketidakpastian di pasar keuangan global dan berdampak langsung ke pasar saham domestik. Ia menyebut Presiden Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, namun ditolak.
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi rilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Nafan menjelaskan, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dapat menjadi penghambat IHSG kembali ke zona positif dalam jangka pendek, mengingat bobot keduanya yang besar di indeks.
Meski demikian, Nafan melihat peluang katalis positif dari reformasi pasar modal yang tengah dilakukan otoritas. Ia menilai penuntasan agenda penguatan transparansi oleh OJK, BEI, dan KSEI berpotensi menjadi pendorong positif ke depan.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai pasar saat ini berada dalam fase bearish dengan volatilitas tinggi. Ia menyebut kondisi tersebut dipicu kepanikan pasar seiring menguatnya sentimen risk-off.
Wafi menjelaskan pelemahan IHSG dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, depresiasi rupiah yang menembus Rp17.000 per dolar AS, hingga arus keluar modal asing yang disebut masif. Selain itu, kebijakan suku bunga global turut menekan pasar, seiring sinyal kuat The Fed untuk menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Ke depan, Wafi memperkirakan IHSG masih berpotensi tertekan dalam jangka pendek. Pemulihan dinilai sangat bergantung pada meredanya tensi geopolitik dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Ia juga melihat peluang pelemahan lanjutan dengan area support berikutnya di kisaran 6.850–6.900.
Dalam situasi tersebut, Wafi menyarankan investor bersikap lebih hati-hati dengan strategi wait and see. Ia menilai pembelian dapat dilakukan secara selektif pada saham defensif dan perbankan berkapitalisasi besar apabila indeks mulai tertahan di area support.