BERITA TERKINI
IHSG Turun di Bawah 7.000, Sentimen Global dan Reformasi Pasar Tekan Pergerakan

IHSG Turun di Bawah 7.000, Sentimen Global dan Reformasi Pasar Tekan Pergerakan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah dan menembus level psikologis 7.000 pada perdagangan Senin (6/4/2026). Penurunan ini mencerminkan tekanan pasar yang masih kuat di tengah sentimen global yang belum mereda.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penembusan level 7.000 menjadi sinyal melemahnya kepercayaan investor. Menurutnya, level tersebut bukan sekadar batas teknikal, melainkan juga penanda psikologis yang kerap memengaruhi perilaku pelaku pasar.

“Level 7.000 bukan hanya angka teknikal, tetapi juga batas psikologis. Ketika level ini ditembus, itu menandakan pelaku pasar cenderung memilih mengurangi risiko atau risk-off,” kata Hendra, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi ketidakpastian global dibanding faktor domestik. Kondisi itu mendorong volatilitas meningkat, dengan kecenderungan arah indeks melemah.

Dari sisi eksternal, tekanan datang dari ketegangan geopolitik global serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga, terutama dari bank sentral Amerika Serikat. Situasi ini mendorong aliran dana global bergeser ke aset aman seperti dolar AS. Pelemahan pasar regional Asia juga ikut menyeret IHSG, seiring pandangan investor asing terhadap pasar emerging markets yang kerap diperlakukan seragam.

Sementara dari dalam negeri, reformasi pasar modal turut memberi dampak jangka pendek. Kebijakan peningkatan free float, keterbukaan kepemilikan saham, serta rilis daftar high shareholding concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu penyesuaian harga pada sejumlah saham, terutama yang likuiditasnya rendah dan kepemilikannya terkonsentrasi.

Meski begitu, Hendra menilai dinamika tersebut merupakan bagian dari fase transisi menuju struktur pasar yang lebih sehat. Reformasi yang dilakukan otoritas dinilai sejalan dengan standar global yang menekankan transparansi, likuiditas riil, dan aksesibilitas pasar, sehingga berpotensi memperkuat kepercayaan investor dalam jangka panjang.

Ke depan, arah IHSG masih sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan stabilitas domestik. Selama ketidakpastian global tinggi, indeks diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Namun, jika tekanan mereda, peluang rebound tetap terbuka dengan dukungan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil.

Secara teknikal, IHSG kini berada di area krusial setelah menembus 7.000. Jika tekanan jual berlanjut dan level 6.917 gagal bertahan, pelemahan berpotensi berlanjut ke kisaran 6.745. Sebaliknya, untuk kembali ke tren penguatan, IHSG perlu menembus area resistance di 7.300–7.350.

Dalam kondisi pasar seperti ini, investor disarankan tetap disiplin dan tidak terburu-buru mengambil keputusan. Pendekatan yang lebih hati-hati antara lain melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi, seperti sektor perbankan besar, energi, dan komoditas. Menjaga porsi kas juga dinilai penting agar tetap fleksibel menghadapi volatilitas serta siap memanfaatkan peluang ketika pasar mulai pulih.