BERITA TERKINI
IHSG Turun 0,79% ke 6.971, Saham BREN hingga RLCO Menekan Pergerakan Indeks

IHSG Turun 0,79% ke 6.971, Saham BREN hingga RLCO Menekan Pergerakan Indeks

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (6/4), IHSG turun 0,79% atau sekitar 55 poin ke level 6.971, melanjutkan tekanan yang telah terasa sejak awal tahun.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, IHSG juga tercatat sudah terkoreksi secara year-to-date. Kondisi ini mengindikasikan sentimen pasar yang masih cenderung negatif.

Tekanan pada IHSG antara lain datang dari penurunan saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Saham-saham dengan karakteristik ini cenderung volatil karena pergerakannya dapat dipengaruhi oleh segelintir pemegang saham besar.

Sejumlah saham yang masuk daftar pelemah terbesar di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun sekitar 11%, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang anjlok hampir 14%, serta PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) yang melemah hingga 10%. Penurunan tajam pada saham-saham tersebut ikut menyeret IHSG ke zona merah.

Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan tetap ramai. Volume transaksi tercatat lebih dari 17 miliar saham dengan frekuensi melampaui satu juta kali transaksi. Nilai transaksi menembus Rp8 triliun, menunjukkan minat investor masih terlihat di tengah tekanan pasar.

Dari sisi pergerakan saham, tekanan jual lebih dominan. Tercatat 239 saham menguat, 425 saham melemah, dan 149 saham tidak berubah.

Pelemahan juga terjadi pada sejumlah sektor, termasuk infrastruktur. Saham PT Adhi Karya Tbk dan PT Jasa Marga Tbk tercatat turun, turut menekan pergerakan indeks secara keseluruhan. Kondisi ini menandakan tekanan tidak hanya datang dari saham-saham tertentu, tetapi juga menyentuh sektor yang dinilai strategis.

Secara regional, pergerakan IHSG masih sejalan dengan bursa Asia yang cenderung bergerak mixed, dengan sebagian indeks menguat dan sebagian lainnya melemah. Situasi ini menunjukkan sentimen global masih menjadi faktor yang memengaruhi arah pasar domestik.

Bagi investor, beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain volatilitas saham dengan kepemilikan terkonsentrasi, pengaruh sentimen global, serta potensi dampak aksi jual investor besar terhadap pergerakan harga. Di tengah koreksi, sebagian pelaku pasar juga menilai kondisi ini dapat membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk pada harga yang lebih rendah.