BERITA TERKINI
IHSG Menguat ke 7.307,59, Pengamat Ingatkan Strategi Disiplin di Tengah Volatilitas

IHSG Menguat ke 7.307,59, Pengamat Ingatkan Strategi Disiplin di Tengah Volatilitas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 9 April 2026. IHSG naik 28,38 poin atau 0,39 persen ke posisi 7.307,59.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai penguatan IHSG yang terjadi dalam waktu singkat membuka peluang keuntungan bagi investor. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar masih dibayangi volatilitas tinggi akibat ketidakpastian global, terutama dinamika geopolitik dan arah harga energi.

“Jadi, momentum saat ini bisa dikatakan sebagai titik awal pemulihan, tetapi belum sepenuhnya menjadi trend reversal yang solid,” kata Hendra, Jumat (10/4/2026).

Menurut Hendra, kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus risiko. Investor dinilai masih dapat memanfaatkan momentum kenaikan, namun perlu dilakukan dengan strategi yang terukur dan tidak agresif.

“Dalam kondisi seperti ini, strategi terbaik bagi investor adalah memanfaatkan momentum dengan tetap disiplin. Ini memang menjadi peluang untuk akumulasi saham yang sebelumnya terdiskon, namun harus selektif dan tidak agresif,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan risiko agar investor tidak terbawa euforia pasar. Penentuan batas cut loss dan target profit disebut menjadi kunci untuk menjaga portofolio di tengah pergerakan pasar yang fluktuatif.

Di tengah kondisi pasar yang dinilai masih rentan, Hendra merekomendasikan sejumlah saham yang disebut memiliki kombinasi momentum teknikal dan dukungan sentimen sektoral. Saham yang disebut antara lain MBMA dengan target harga 855–935, JPFA di kisaran 2.800–3.000, SCMA di level 300–350, serta BUMI di area 280–306. Menurutnya, saham-saham tersebut berpotensi menarik untuk pergerakan jangka pendek.

“Saham-saham ini memiliki kombinasi momentum teknikal dan sentimen sektoral yang mendukung, terutama dari sisi komoditas dan konsumsi domestik,” kata Hendra.

Adapun ke depan, Hendra menilai tantangan terbesar IHSG masih berasal dari faktor eksternal, seperti ketidakpastian geopolitik, arah harga minyak, dan kebijakan suku bunga global. Jika harga energi kembali stabil atau turun, tekanan inflasi dinilai dapat mereda dan memberi ruang bagi bank sentral untuk lebih dovish, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham.

Namun, ia mengingatkan, apabila konflik kembali memanas, risiko capital outflow dan pelemahan rupiah dapat kembali terjadi. Ia menilai arah pasar dalam beberapa minggu ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

“Kesimpulannya, pasar saat ini sedang berada dalam fase optimisme jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya aman. Investor disarankan untuk tetap oportunistik namun waspada,” pungkasnya.