Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sepekan dengan penguatan. Dalam periode 6–10 April 2026, IHSG tercatat naik 6,14% ke level 7.458, dari posisi 7.026 pada pekan sebelumnya.
Seiring penguatan tersebut, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut meningkat 7,18% menjadi Rp13.189 triliun, dibandingkan Rp12.305 triliun pada pekan sebelumnya.
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai pergerakan IHSG pada pekan 13–17 April berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi, meski masih ada peluang rebound secara teknikal.
“Pergerakan 13–17 April cenderung konsolidasi dengan potensi technical rebound. Kesamaan pola rebound 8 April (yang terjadi di 2025 dan 2026) belum mengonfirmasi tren reversal menuju bullish,” ujar Wafi.
Menurut dia, sentimen global masih menjadi faktor yang menahan laju penguatan indeks. “Isu geopolitik dan suku bunga masih jadi penekan, sementara sentimen IPO pertama cuma jangka pendek,” lanjutnya.
Dari sisi aktivitas perdagangan, peningkatan terjadi secara merata. Rata-rata volume transaksi harian naik 24,81% menjadi 32,28 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat 17,26% menjadi Rp17,32 triliun, sementara frekuensi transaksi bertambah 15,05% menjadi 2,05 juta kali.
Untuk aliran dana, investor asing mencatatkan net buy Rp193,87 miliar pada Jumat (10/4). Namun, secara tahun berjalan (year to date), investor asing masih membukukan net sell Rp37,14 triliun.
Terkait strategi investasi, Wafi menilai sektor komoditas masih menjadi pilihan utama pada kuartal II 2026. “Untuk kuartal II 2026, sektor komoditas seperti energi, emas, dan logam dasar masih menarik sebagai aset safe haven di tengah isu geopolitik. Namun mulai terlihat rotasi ke perbankan big caps yang memanfaatkan valuasi diskon serta sektor konsumer yang cenderung defensif,” ujarnya.
Wafi menambahkan rotasi sektor mulai terlihat, termasuk pada perbankan berkapitalisasi besar.