JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan seiring meningkatnya ketidakpastian global dan memanasnya tensi geopolitik di kawasan Asia Barat. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see sambil menantikan pengumuman komposisi indeks MSCI pada Mei 2026.
Kepala Investment Banking PT Semesta Indovest Sekuritas, Kerry Rusli, menilai tekanan terhadap pasar saham domestik masih cukup kuat. Menurutnya, sentimen global yang belum stabil membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Ia mengatakan, kehati-hatian investor juga dipengaruhi oleh penantian terhadap kepastian perubahan komposisi saham Indonesia dalam indeks MSCI, yang kerap berdampak pada aliran dana asing ke pasar domestik.
“Pelaku pasar masih menunggu kepastian, terutama dari pengumuman MSCI. Ditambah lagi kondisi global yang belum kondusif,” ujar Kerry saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Kerry menambahkan, konflik geopolitik di Asia Barat turut memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ia menilai stabilitas pasar berpotensi membaik apabila ketegangan geopolitik mulai mereda.
“Sambil melihat juga kondisi politik global, ekonomi, semua, mudah-mudahan juga akan selesai perangnya, supaya minat di masyarakat terhadap ekonominya juga bisa bergerak lagi dengan baik,” katanya.
Meski demikian, Kerry menekankan bahwa pergerakan IHSG yang fluktuatif merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar. Dalam kondisi tersebut, peluang penguatan kembali atau rebound dinilai masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan.