BERITA TERKINI
IHSG Dibuka Melemah, World Bank Waspadai Risiko Arus Keluar Modal di Negara Berkembang

IHSG Dibuka Melemah, World Bank Waspadai Risiko Arus Keluar Modal di Negara Berkembang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada Kamis (9/4/2026) di level 7.238,46. Pergerakan indeks kemudian tetap berada di zona negatif hingga menyentuh 7.229 pada pukul 09.50 WIB, berdasarkan data aplikasi IDX Mobile.

Pelemahan terjadi di tengah tekanan pada mayoritas saham, dengan 343 emiten tercatat turun dan 370 emiten stagnan. Dalam sekitar satu jam perdagangan, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.701 triliun. Volume transaksi mencapai 9,02 miliar saham dengan nilai transaksi Rp5,22 triliun, dan frekuensi transaksi sebanyak 721.000 kali. Pergerakan pasar disebut masih dinamis hingga jeda sesi pertama pada pukul 12.00 WIB.

Penurunan di pasar saham Indonesia disebut merupakan imbas kondisi global yang juga terjadi di bursa negara lain. World Bank menilai, saat terjadi kekacauan, pemilik modal cenderung mencari perlindungan dan rasa aman di pasar tertentu.

Kepala Riset Tim Riset Pembangunan Grup World Bank, Aaditya Mattoo, menyampaikan selisih suku bunga yang mulai melebar menjadi kekhawatiran bagi kawasan negara berkembang. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi mendorong arus modal yang merugikan dan terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan inflasi di sejumlah negara.

Mattoo juga menyoroti pasar modal Indonesia yang masih tergolong dangkal, meski terdapat upaya memperdalam pasar. Ia merujuk pada inisiatif reformasi pasar modal yang dilakukan sepanjang Februari hingga April 2026 oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk memperdalam likuiditas serta meningkatkan transparansi.

Menurut Mattoo, langkah tersebut berpotensi menghasilkan resiliensi yang lebih besar. Namun, ia menilai iklim keseluruhan saat ini menjadi kurang menguntungkan bagi stabilitas keuangan dibanding kondisi yang berlaku sebelum krisis ini.

Dalam konteks sebelumnya, konflik geopolitik di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel turut mengguncang sejumlah sektor, termasuk energi, barang baku, perindustrian, dan logistik. Dampaknya juga terlihat pada lonjakan produk turunan minyak bumi, termasuk plastik dan bijih plastik.

Pada pukul 10.15 WIB, mayoritas indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia tercatat melemah, meski sebagian bergerak positif seperti sektor energi (IDXENERGY) dan barang konsumen non-primer atau siklikal (IDXCYCLICAL), mengacu pada IDX Mobile.

Penurunan terdalam terjadi pada sektor perindustrian (IDXINDUST) yang terkoreksi sekitar 1,40%–1,50% ke level 1.895. Sektor infrastruktur (IDXINFRA) turun sekitar 1,18%–1,24% ke level 1.992. Sementara itu, IDXENERGY naik sekitar 0,45%–0,50% ke level 3.840 dan IDXCYCLICAL menguat 1,34% ke level 1.116.