BERITA TERKINI
IHSG Dibuka Melemah di Level 7.001, Sentimen Global dan Kebijakan BEI Jadi Perhatian

IHSG Dibuka Melemah di Level 7.001, Sentimen Global dan Kebijakan BEI Jadi Perhatian

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 6 April 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG tercatat berada di level 7.001,56.

Pada awal perdagangan, pergerakan IHSG cenderung tertekan seiring sentimen global yang masih negatif. Pelaku pasar terlihat berhati-hati memasuki awal pekan.

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, IHSG ditutup melemah signifikan, turun 157,66 poin atau 2,19 persen ke level 7.026.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan global masih mendominasi pasar. Ia menyebut eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga minyak dunia terus melonjak.

Menurut Hendra, kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil langkah defensif dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di emerging markets seperti Indonesia. Ia menilai hal itu turut menjelaskan koreksi IHSG yang mencapai 2,19 persen pada perdagangan sebelumnya.

Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Kebijakan ini dinilai meningkatkan kewaspadaan investor terhadap risiko likuiditas dan volatilitas.

Hendra mengatakan saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi lebih rentan mengalami tekanan saat terjadi aksi jual. Ia menambahkan, saham-saham tersebut cenderung lebih mudah digerakkan oleh pihak tertentu, dan dampaknya terhadap IHSG akan semakin terasa jika saham terkait memiliki bobot besar dalam indeks.

Ia mencontohkan saham-saham seperti DSSA, BREN, BRPT, hingga AMMN yang disebut mengalami tekanan cukup tajam.

Dengan kondisi tersebut, Hendra memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih berada dalam fase konsolidasi melemah. Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 6.912, terutama jika sentimen global belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Menjelang periode libur panjang, ia memperkirakan likuiditas pasar akan menurun sehingga investor cenderung memilih sikap wait and see dalam jangka pendek.

Meski demikian, Hendra menilai peluang tetap terbuka di tengah tekanan pasar, namun bersifat selektif pada saham berfundamental kuat. Ia menyebut saham berbasis komoditas perkebunan berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga CPO seiring mahalnya harga minyak dunia.

Di sektor perbankan daerah, BJBR dinilai menarik sebagai speculative buy dengan dukungan stabilitas kinerja dan potensi pertumbuhan kredit daerah. Sementara di sektor media, SCMA disebut sebagai play pemulihan konsumsi dan belanja iklan dengan target 300 persen.

Meski begitu, Hendra mengingatkan pergerakan saham tetap dipengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan. Karena itu, ia menilai strategi yang paling relevan saat ini adalah tetap berhati-hati, terutama untuk trading jangka pendek dan bukan untuk agresif melakukan akumulasi besar.