BERITA TERKINI
Heri Pudyatmoko: Jawa Tengah Berpeluang Menjadi Pusat Industri Hijau Nasional di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

Heri Pudyatmoko: Jawa Tengah Berpeluang Menjadi Pusat Industri Hijau Nasional di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menyatakan Jawa Tengah memiliki peluang besar untuk menjadi pusat industri hijau nasional di tengah gejolak ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, perlambatan ekonomi dunia akibat pergeseran kebijakan perdagangan, ketegangan geopolitik, dan transisi energi perlu dijawab dengan strategi transformasi industri rendah karbon.

Heri menyampaikan optimismenya dengan merujuk pada kinerja ekonomi Jawa Tengah. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, perekonomian provinsi tersebut tumbuh 5,37 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibanding capaian nasional yang tercatat 5,04 persen.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah ditopang sektor industri pengolahan yang menyumbang 33,43 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB). Sektor lain yang turut berkontribusi adalah perdagangan, pertanian, dan konstruksi. Selain itu, kawasan ekonomi khusus (KEK) serta kawasan industri disebut memberikan kontribusi langsung hingga 1,87 persen terhadap PDRB provinsi.

Heri menilai capaian tersebut menjadi momentum untuk melakukan lompatan strategis menuju industri beremisi rendah. “Hadapi tantangan ekonomi global, Jawa Tengah bukan hanya bertahan, tapi bisa menjadi pusat industri hijau yang kompetitif,” ujarnya.

Sejumlah langkah pemerintah daerah juga disebut mengarah pada penguatan industri hijau. Pada 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Central Java Investment Business Forum (CJIBF) memperoleh komitmen investasi senilai Rp5 triliun dari 34 investor, dengan porsi besar diarahkan ke sektor energi terbarukan dan industri hijau.

Pemprov Jawa Tengah juga menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 26 Tahun 2025 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Industri Hijau sebagai payung hukum penyelenggaraan industri hijau di daerah. Di sisi implementasi, groundbreaking Green Java Industry Park di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang pada akhir 2025 disebut menjadi salah satu penanda dimulainya pengembangan kawasan industri ramah lingkungan.

Di Kabupaten Batang, PT Jateng Petro Energi (JPEN) dilaporkan menyiapkan pasokan energi baru terbarukan hingga 180 MW untuk mendukung Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Kawasan tersebut dinilai menjadi daya tarik bagi investor yang membutuhkan kepastian pasokan energi hijau.

Dari perspektif global, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Update Januari 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,3 persen pada 2026. Dalam konteks tersebut, Heri menilai negara berkembang seperti Indonesia menghadapi peluang sekaligus ancaman, mengingat industri konvensional berisiko kehilangan daya saing apabila tidak bertransformasi menuju industri hijau.

Heri juga menyoroti sejumlah keunggulan komparatif Jawa Tengah, mulai dari lokasi strategis di tengah Pulau Jawa, pelabuhan Tanjung Mas yang terus dikembangkan, hingga keberadaan ratusan kawasan industri. Menurutnya, basis industri pengolahan yang menjadi mesin pertumbuhan—disebut mencatat lonjakan 35 persen pada 2025—dapat diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah dengan emisi rendah, seperti komponen kendaraan listrik, panel surya, dan produk bio-based.

Ia menambahkan, pengembangan industri hijau dinilai dapat meningkatkan daya tarik investasi, terutama dari investor yang semakin memperhatikan aspek lingkungan. Selain itu, transformasi ini juga disebut berpotensi menciptakan lapangan kerja baru yang lebih berkualitas, mendukung target nasional Net Zero Emission 2060, serta memperkuat ketahanan ekonomi daerah terhadap fluktuasi harga energi fosil.

Untuk mendukung agenda tersebut, Heri menyatakan DPRD akan mendorong langkah-langkah kebijakan yang diperlukan. “Kami (DPRD) akan mendorong regulasi yang lebih progresif, percepatan perizinan dan peningkatan SDM melalui pendidikan vokasi berbasis green technology,” katanya.

Heri mengakui tantangan masih ada, termasuk terkait infrastruktur energi, ketersediaan talenta, dan pembiayaan. Namun ia menilai peluang pengembangan industri hijau di Jawa Tengah lebih besar, terlebih dengan proyeksi Bank Indonesia yang menempatkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada kisaran 5,1–5,9 persen pada 2026. Menurutnya, angka tersebut berpotensi lebih tinggi apabila investasi hijau terealisasi.

“Tantangan tentu masih ada, mulai dari infrastruktur energi, ketersediaan talenta, hingga pembiayaan. Namun, peluangnya jauh lebih besar,” ujarnya. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan kesiapan Jawa Tengah menghadapi dinamika global sekaligus memimpin transformasi menuju ekonomi yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.