Harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin (13/4) hingga mencapai 104,91 dolar AS per barel. Kenaikan ini terjadi setelah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan gagal, memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan harga minyak sejak awal perdagangan berlangsung sangat fluktuatif. Ia mencatat terjadi lonjakan besar dalam waktu singkat dibandingkan posisi pembukaan pagi hari.
“Itu tadi di 90.108 waktu pagi jam 6, itu langsung terjadi gap up di 97.987 dolar per barel. Kemudian sekarang sudah di atas 104.91,” kata Ibrahim melalui pesan suara, Senin (13/4).
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak tersebut dapat memunculkan dua skenario yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ia memproyeksikan rupiah bisa terus melemah hingga menembus level Rp 17.400 pada April ini.
“Ada dua skenario ya Indonesia yang membuat rupiah melemah yang kemungkinan besar di Rp 17.400 dalam bulan April ini. Yang pertama, kapal minyak, ya kapal tanker minyak itu masih tertahan di Selat Hormuz sampai saat ini,” ujarnya.