Jakarta — Harga emas diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, didukung kombinasi faktor fundamental global dan sinyal teknikal yang dinilai semakin solid. Pada sesi awal perdagangan Asia, harga emas sempat menyentuh kisaran USD5.230, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyampaikan, logam mulia menunjukkan momentum bullish setelah mampu mempertahankan kenaikan selama empat hari berturut-turut dan kembali menembus level psikologis USD5.200 per troy ounce.
Menurut Andy, penguatan emas turut dipengaruhi pelemahan dolar AS yang tertekan oleh dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Keputusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan tarif impor besar yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump tidak sah memicu ketidakpastian baru dalam perdagangan internasional. Meski pemerintah AS kemudian mengumumkan tarif baru sebesar 15 persen, langkah tersebut dinilai menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas perdagangan global.
“Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko ekonomi dan geopolitik,” kata Andy dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 24 Februari 2026.
Selain isu perdagangan, ketegangan geopolitik juga menjadi pendorong tambahan. Rencana pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir disebut menimbulkan ketidakpastian baru di pasar global. Kondisi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil cenderung meningkatkan permintaan emas, meski perkembangan positif dalam negosiasi diplomatik berpotensi menahan laju kenaikan dalam jangka pendek.
Dari sisi makroekonomi, pelemahan Indeks Dolar AS yang turun ke kisaran 97,64 turut menopang harga emas. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke sekitar 4,025 persen juga memperkuat daya tarik logam mulia. Secara historis, emas memiliki korelasi terbalik dengan imbal hasil obligasi dan dolar AS.
Andy menjelaskan, ketika imbal hasil dan dolar melemah, emas menjadi lebih menarik karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi lebih rendah.
Pasar juga menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat yang diperkirakan naik moderat 0,3 persen. Data tersebut dipandang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sentimen positif bagi emas turut didorong pernyataan pejabat The Fed, termasuk Christopher Waller, yang membuka peluang untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga jika kondisi ekonomi mendukung. Suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas karena mengurangi keunggulan aset berbunga seperti obligasi.
Dari sisi teknikal, Andy menilai kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang menguat. Harga emas disebut bergerak stabil di atas level rata-rata utama, mengindikasikan dominasi pembeli masih kuat.
Berdasarkan proyeksi teknikal Dupoin Futures, jika tekanan bullish berlanjut, harga emas berpotensi menguji resistance berikutnya di kisaran USD5.250 per troy ounce. Namun, Andy mengingatkan potensi koreksi tetap perlu diantisipasi. Jika harga gagal mempertahankan momentum kenaikan, emas berpeluang turun menuju area support terdekat di sekitar USD5.127 per troy ounce.
Dupoin Futures menilai selama harga bertahan di atas area support kunci, peluang emas untuk melanjutkan penguatan menuju level yang lebih tinggi masih terbuka dalam jangka pendek.

