Jakarta — Harga kontrak minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Selasa (7/4), memperpanjang tren penurunan selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan data penutupan, kontrak CPO April 2026 turun 49 ringgit Malaysia menjadi 4.691 ringgit Malaysia per ton. Pelemahan dengan besaran yang sama juga terjadi pada kontrak Mei 2026 yang terkoreksi 49 ringgit Malaysia ke level 4.730 ringgit Malaysia per ton.
Kontrak Juni 2026 ikut turun 46 ringgit Malaysia menjadi 4.765 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Juli 2026 melemah 41 ringgit Malaysia ke 4.774 ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak Agustus 2026 tercatat turun 35 ringgit Malaysia menjadi 4.757 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak September 2026 turun 32 ringgit Malaysia ke 4.729 ringgit Malaysia per ton.
Penurunan tersebut terjadi di tengah kebijakan pembatasan ekspor dari Thailand. Pemerintah Thailand mewajibkan eksportir memperoleh persetujuan tertulis sebelum melakukan ekspor CPO. Kebijakan itu disebut ditujukan untuk menjaga pasokan domestik seiring meningkatnya kebutuhan biodiesel.
Namun, riset CIMB Securities Sdn Bhd menilai dampak kebijakan Thailand terhadap pasar global relatif terbatas. Pertimbangannya, porsi ekspor Thailand masih jauh lebih kecil dibanding Indonesia yang menguasai sekitar 52% pasar global serta Malaysia dengan pangsa sekitar 35%.
Meski demikian, pembatasan ekspor tersebut tetap dinilai berpotensi memberi sentimen positif jangka pendek karena dapat menekan suplai dari Thailand.
Di sisi lain, analis Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, menyampaikan bahwa pergerakan harga CPO juga dipengaruhi dinamika komoditas lain. Menurutnya, secara fundamental harga CPO memiliki ruang untuk menguat, tetapi pasar masih dibayangi pergerakan minyak kedelai dan minyak mentah yang belum memberikan dorongan signifikan.
“Secara teori harga bisa lebih tinggi, tapi pasar ikut bergerak mengikuti komoditas terkait,” ujarnya.