KARANGANYAR — Stabilnya harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri disebut menjadi salah satu penopang utama ketahanan dunia usaha di tengah gejolak global. Di Karanganyar, pelaku bisnis dinilai masih mampu menjaga aktivitas usaha tanpa tekanan besar pada biaya produksi.
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Karanganyar, Hervan Miftah Hafidin, mengatakan kondisi dunia usaha setempat hingga kini masih relatif stabil dan belum terdampak signifikan.
“Untuk saat ini, dunia usaha di Karanganyar belum terlalu terdampak. Aktivitas bisnis masih berjalan normal,” ujarnya.
Menurut Hervan, stabilnya harga BBM menjadi faktor penting yang membantu menjaga biaya produksi dan harga barang di lapangan tetap terkendali.
“Harga BBM kita masih sangat stabil. Ini patut diapresiasi karena berdampak langsung pada biaya produksi dan harga barang di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, ketika harga energi dapat dikendalikan, pelaku usaha tidak terbebani lonjakan biaya operasional. “Selama BBM stabil, harga-harga juga tidak ikut terdorong naik terlalu tinggi. Ini menjaga keseimbangan di dunia usaha,” jelasnya.
Meski demikian, Hervan mengingatkan stabilitas tersebut perlu dijaga melalui langkah strategis, terutama terkait ketahanan energi nasional. Ia menyoroti keterbatasan cadangan BBM yang diperkirakan berada di kisaran sekitar 20 hari.
“Kalau bicara ideal, tentu cadangan energi harus lebih panjang. Tapi yang ada sekarang harus dimaksimalkan,” ujarnya.
Selain cadangan, ia juga menekankan pentingnya kelancaran jalur distribusi global, termasuk kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Menurutnya, gangguan distribusi dapat berdampak pada stabilitas harga.
“Kalau distribusi lancar, saya yakin stabilitas harga bisa tetap terjaga. Tapi kalau terganggu, pasti ada dampaknya,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah memperkuat diplomasi energi serta menambah kapasitas penyimpanan BBM. “Langkahnya bisa dua, diplomasi internasional dan pembangunan storage baru. Dua-duanya penting,” imbuhnya.
Di sisi lain, Hervan menilai pelemahan rupiah dapat membuka peluang bagi eksportir. Ia mencontohkan ketika kurs dolar sempat berada di kisaran Rp17.000, nilai ekspor dalam rupiah menjadi lebih tinggi.
“Dengan kurs dolar yang sempat di kisaran Rp17.000, sebenarnya ini peluang. Nilai ekspor kita jadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah,” katanya.
Namun ia mengingatkan, kondisi tersebut tetap menyimpan risiko bila tidak diimbangi dengan stabilitas dalam negeri. “Kalau inflasi naik tinggi, biaya produksi juga ikut naik. Ini yang harus dijaga,” ujarnya.