Depok — Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Prof. Dony Abdul Chalid menilai literasi keuangan menjadi kunci penting agar masyarakat dapat memahami sekaligus menghindari dampak negatif dari perkembangan inovasi di sektor keuangan.
Berbicara di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Kamis, Dony mengatakan inovasi keuangan selama ini kerap dipandang identik dengan hal positif. Menurutnya, perkembangan tersebut mendorong sistem keuangan menjadi lebih efisien, mempercepat perputaran uang, memperkuat peran lembaga keuangan, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa inovasi keuangan juga dapat memicu risiko serius apabila tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Dony mencontohkan krisis keuangan global 2008 yang, antara lain, dipicu rendahnya kehati-hatian dan munculnya moral hazard dalam pengembangan instrumen keuangan. Peristiwa tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa kemajuan sektor keuangan perlu disertai kesiapan masyarakat untuk memahaminya.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi seperti digitalisasi, blockchain, dan kecerdasan buatan yang mengubah cara masyarakat mengambil keputusan keuangan. Kini, seseorang dapat mengakses berbagai produk keuangan dengan mudah tanpa perantara. Di satu sisi, hal itu memudahkan, tetapi di sisi lain dapat meningkatkan risiko kesalahan karena keputusan sangat bergantung pada kemampuan individu dalam memahami informasi.
Dalam konteks tersebut, Dony menekankan literasi keuangan tidak hanya menyangkut pemahaman produk keuangan, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan, bersikap rasional, serta memiliki orientasi jangka panjang demi kesejahteraan finansial. Karena itu, ia menilai peningkatan literasi keuangan perlu menjadi prioritas bersama.