Generasi Z kerap disebut sebagai generasi paling digital. Aktivitas harian mereka banyak bergantung pada smartphone, mulai dari belanja daring, pembayaran dengan dompet elektronik, investasi digital, hingga mencari ide bisnis melalui media sosial.
Kondisi itu ikut memengaruhi cara pandang Gen Z terhadap masa depan karier. Jika sebelumnya kelulusan dari perguruan tinggi identik dengan mencari pekerjaan, kini semakin banyak anak muda yang ingin menciptakan pekerjaan sendiri. Tren tersebut terlihat dari meningkatnya minat pada bisnis digital, startup, dan usaha berbasis teknologi, seiring terbukanya peluang wirausaha di era fintech dan ekonomi digital.
Meski demikian, menjadi wirausahawan di era digital tidak cukup hanya mengandalkan ide kreatif. Diperlukan pemahaman bisnis, kemampuan membaca peluang pasar, serta keterampilan memanfaatkan teknologi dan data untuk mengembangkan usaha.
Perubahan lanskap bisnis membuat banyak usaha tumbuh melalui platform digital, mulai dari toko daring, aplikasi layanan, hingga startup teknologi finansial. Dalam praktiknya, keputusan bisnis juga semakin sering ditopang oleh data dan analisis pasar digital. Karena itu, wirausahawan masa kini dituntut memahami strategi bisnis sekaligus memiliki kemampuan membaca data, menguasai pemasaran digital, dan memanfaatkan teknologi keuangan.
Bagi Gen Z yang tumbuh bersama internet, peluang ini dinilai besar karena mereka sudah akrab dengan ekosistem digital sejak kecil. Tantangannya adalah mengarahkan kebiasaan dan pengetahuan digital tersebut menjadi kompetensi bisnis yang konkret.
Sejalan dengan kebutuhan itu, sejumlah kampus mulai mengembangkan program kewirausahaan yang tidak hanya berfokus pada bisnis konvensional, tetapi juga bisnis digital dan teknologi. Salah satunya Program Studi Digital Entrepreneur (Kewirausahaan) di Cyber University (Universitas Siber Indonesia) yang dikenal sebagai The First Fintech University in Indonesia.
Program tersebut dirancang untuk membentuk wirausahawan yang mampu memanfaatkan teknologi informasi sekaligus memahami perkembangan digitalisasi keuangan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep bisnis, tetapi juga diajak memahami pemanfaatan teknologi untuk menciptakan peluang usaha, mengelola bisnis secara digital, dan menganalisis perkembangan pasar berbasis data.
Melalui pendekatan pembelajaran yang menyesuaikan perkembangan industri digital, mahasiswa dipersiapkan dengan sejumlah kompetensi. Di antaranya kemampuan sebagai digital entrepreneur untuk membangun dan mengembangkan bisnis berbasis teknologi; junior data analyst untuk membaca dan menganalisis data bisnis sebagai dasar pengambilan keputusan; innovation consultant untuk merancang inovasi bisnis dan strategi pengembangan produk; serta business operations manager untuk mengelola operasional bisnis secara efektif dan strategis.
Kombinasi keterampilan tersebut dinilai membuka dua jalur bagi lulusan, yakni merintis usaha sendiri maupun berkarier di perusahaan yang membutuhkan talenta bisnis digital.
Di tengah laju ekonomi digital, peluang wirausaha bagi anak muda semakin terbuka. Ide bisnis dapat muncul dari berbagai sumber, termasuk media sosial, teknologi, dan kebiasaan digital sehari-hari. Karena itu, pendidikan yang menggabungkan bisnis, teknologi, dan digitalisasi keuangan menjadi salah satu pertimbangan bagi Gen Z yang ingin membangun masa depan lebih mandiri melalui kewirausahaan digital.