BERITA TERKINI
Gaya Hidup Konsumtif Mahasiswa di Era Digital Kian Menguat, Literasi Keuangan Jadi Penentu

Gaya Hidup Konsumtif Mahasiswa di Era Digital Kian Menguat, Literasi Keuangan Jadi Penentu

Perkembangan era digital mengubah cara mahasiswa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudahan berbelanja melalui platform e-commerce, maraknya promo, hadirnya layanan paylater, serta pengaruh media sosial membuat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Dalam kondisi ini, konsumsi tidak lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun citra dan validasi sosial.

Pola konsumsi tersebut mendorong kecenderungan gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa. Keinginan untuk selalu tampil terkini kerap mengalahkan pertimbangan rasional dalam mengelola keuangan. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan belanja, tetapi juga berhubungan erat dengan tingkat literasi keuangan mahasiswa dalam menghadapi disrupsi ekonomi digital.

Sejumlah kajian mendefinisikan gaya hidup konsumtif sebagai kecenderungan mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan bukan karena kebutuhan objektif, melainkan untuk memenuhi keinginan sesaat dan prestise sosial. Di lingkungan mahasiswa, perilaku ini dipengaruhi faktor ekonomi, sosial, dan psikologis, termasuk kebutuhan akan eksistensi diri dan tekanan pergaulan. Media sosial turut membentuk standar gaya hidup tertentu yang kemudian dijadikan acuan, sehingga mahasiswa terdorong mengikuti tren demi menjaga citra diri.

Beberapa faktor yang dinilai berperan dalam meningkatnya gaya hidup konsumtif antara lain pengaruh influencer yang mempromosikan tren gaya hidup mewah dan barang bermerek, dominasi e-commerce yang memudahkan transaksi, strategi pemasaran agresif seperti flash sale dan diskon besar, serta penggunaan fitur paylater yang memberi kesan daya beli instan. Tekanan lingkungan sosial juga menjadi pendorong, karena mahasiswa kerap merasa perlu menyesuaikan gaya hidup agar tetap diterima dalam kelompok pergaulan.

Di lingkungan kampus, perilaku konsumtif dapat terlihat dari kebiasaan membeli kopi di kafe mahal demi estetika media sosial, mengganti gawai setiap kali muncul seri terbaru meski perangkat lama masih berfungsi baik, hingga membeli pakaian fast fashion yang trennya cepat berganti.

Meski begitu, kemajuan digital juga berpotensi memberi manfaat jika dikelola secara bijak. Teknologi dapat membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan secara lebih efisien, misalnya melalui layanan antar yang menghemat waktu, akses informasi produk yang lebih luas untuk membandingkan harga dan kualitas, serta peluang mempelajari pengelolaan keuangan melalui aplikasi pencatat keuangan dan akses instrumen investasi yang semakin terbuka.

Namun, tanpa kontrol diri dan pengetahuan yang memadai, kemudahan digital dapat menjadi bumerang. Gaya hidup yang melampaui kemampuan ekonomi berisiko memicu krisis keuangan pribadi yang dapat berdampak pada kondisi psikologis dan akademik. Karena itu, pemahaman atas konsekuensi jangka panjang dari transaksi digital dinilai penting bagi mahasiswa agar lebih tangguh secara ekonomi setelah lulus.

Sejumlah dampak negatif yang kerap muncul antara lain ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran karena dominannya belanja kebutuhan sekunder dan tersier tanpa perencanaan, meningkatnya pembelian impulsif akibat kemudahan transaksi dan promosi intensif, serta bertambahnya risiko ketergantungan utang dari paylater dan pinjaman daring yang digunakan tanpa pertimbangan stabilitas finansial. Selain itu, kesadaran menabung dan berinvestasi dapat menurun, sehingga kebiasaan finansial sehat tidak terbentuk sejak dini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam laporan dan kebijakannya menekankan bahwa rendahnya literasi keuangan membuat masyarakat, termasuk mahasiswa, lebih mudah terdorong ke perilaku konsumtif. Perkembangan layanan keuangan digital, seperti sistem pembayaran digital, juga dinilai dapat meningkatkan kecenderungan konsumsi jika tidak diimbangi pemahaman yang memadai. Literasi keuangan sendiri dipahami sebagai pengetahuan dan keterampilan untuk mengambil keputusan keuangan secara efektif.

Mahasiswa dengan literasi keuangan rendah cenderung tidak memiliki perencanaan anggaran yang jelas dan kesulitan membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kondisi ini dapat dipengaruhi rendahnya pemahaman konsep dasar keuangan, minimnya perencanaan keuangan pribadi, persepsi bahwa pengelolaan keuangan baru penting saat sudah berpenghasilan tetap, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi keuangan sejak dini.

Sejumlah langkah yang kerap disarankan untuk menekan perilaku konsumtif mencakup penyusunan anggaran bulanan secara disiplin, membedakan kebutuhan dan keinginan dengan tegas, mengurangi paparan konten media sosial yang mendorong konsumsi melalui kurasi, serta memanfaatkan teknologi secara lebih produktif, misalnya dengan aplikasi pelacak pengeluaran dan mulai mengenal instrumen investasi yang terjangkau.

Secara umum, gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa dipandang sebagai konsekuensi dari pesatnya perkembangan era digital. Meski sulit dihindari, dampaknya dapat ditekan melalui peningkatan literasi keuangan dan penguatan pengendalian diri. Dengan kemampuan mengelola keuangan yang lebih baik, mahasiswa diharapkan lebih rasional dalam membelanjakan uang dan dapat memanfaatkan era digital untuk membangun kemandirian finansial di masa depan.