Vietnam menghadapi perubahan demografi yang kian menekan kebutuhan layanan perawatan. Data dari Kantor Statistik Umum (Kementerian Keuangan) memproyeksikan bahwa pada 2038, lebih dari 20% penduduk Vietnam akan berusia di atas 60 tahun. Kondisi ini diperkirakan mendorong lonjakan permintaan layanan perawatan jangka panjang dan layanan kesehatan, termasuk bagi anak-anak serta kelompok rentan.
Di saat kebutuhan meningkat, beban perawatan di tingkat rumah tangga masih timpang. Survei Nasional Penggunaan Waktu di Vietnam 2022 yang dilakukan Bank Dunia mencatat perempuan tetap melakukan sebagian besar pekerjaan perawatan tanpa bayaran, rata-rata sekitar tiga jam per hari—hampir dua kali lipat dibanding laki-laki. Kesenjangan ini dinilai memunculkan “beban ganda” bagi perempuan, menurunkan produktivitas, membatasi peluang berpartisipasi di pasar tenaga kerja, dan berpotensi memengaruhi kualitas tenaga kerja dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, kebijakan dan model bisnis ramah keluarga dipandang sebagai strategi penciptaan nilai. Pendekatan ini disebut dapat membantu perusahaan mempertahankan karyawan, meningkatkan keterlibatan dan produktivitas, serta menekan biaya rekrutmen dan pergantian tenaga kerja. Sejumlah studi internasional juga menyebutkan bahwa setiap 1 dolar AS investasi pada layanan perawatan dapat menghasilkan hingga 4 dolar AS manfaat ekonomi melalui peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan perbaikan kesejahteraan sosial.
Isu ini disorot dalam Forum Ekonomi Vietnam 2026 bertema “Inovasi Model Bisnis - Mendorong Pembangunan Bisnis Berkelanjutan”. Wakil Presiden yang bertanggung jawab atas Dewan Pengusaha Wanita Vietnam (Kamar Dagang dan Industri Vietnam/VCCI), Mai Thi Dieu Huyen, menyampaikan bahwa sektor ekonomi perawatan dinilai memiliki potensi pertumbuhan besar. Ia menilai sektor ini dapat berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja berkelanjutan, peningkatan produktivitas tenaga kerja, pendorong kesetaraan gender, serta penguatan daya saing bisnis. Menurutnya, promosi sektor ini dan replikasi model bisnis ramah keluarga dapat memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan.
Namun, di lapangan, berbagai kendala masih membayangi. Penuaan penduduk yang cepat membuat jumlah lansia dengan penyakit terkait usia dan kebutuhan perawatan meningkat. Pada saat yang sama, mayoritas lansia di Vietnam masih dirawat di rumah oleh anak dan cucu. Sebagian lainnya dirawat di panti jompo, tetapi banyak fasilitas disebut belum memadai dan kekurangan sumber daya manusia.
Presiden Asosiasi Perawat Vietnam, Pham Duc Muc, menyebut perawat rumahan kerap kurang keterampilan dan pengalaman, ditambah tekanan kerja yang tinggi. Situasi ini, menurutnya, dapat memicu stres dan munculnya sejumlah kasus kekerasan terhadap lansia. Di panti jompo, keluhan lain muncul: perawat merasa tidak dapat menjalankan pekerjaan sesuai pelatihan, beban kerja berat, dan pendapatan rendah, yang kemudian berujung pada meningkatnya pengunduran diri.
Nguyen Tuan Ngoc, pendiri sekaligus direktur Pusat Perawatan Lansia Bach Nien Thien Duc, mengatakan pengalaman panjangnya menunjukkan tekanan kerja dan pendapatan yang dianggap tidak memadai menjadi faktor yang membuat tenaga perawat cepat keluar. Ia juga menuturkan adanya ketegangan terkait pembagian tugas, termasuk pekerjaan seperti membersihkan, memandikan, dan mengganti popok pasien lansia yang disebut tidak dipelajari di sekolah.
Masalah lain yang disorot adalah belum adanya program pelatihan khusus perawatan lansia, sehingga minat terhadap profesi ini masih rendah. Selain itu, sebagian perawat menilai pekerjaan perawatan lansia masih dipandang dengan rasa khawatir dan jijik oleh sebagian masyarakat, yang turut memengaruhi antusiasme.
Untuk memenuhi kebutuhan staf, Ngoc menyebut pengelola terpaksa merekrut pekerja sebagai asisten rumah tangga terlebih dahulu. Setelah terbiasa, mereka dibimbing secara bertahap untuk merawat dan membersihkan lansia. Ia juga menyebut upaya mempertahankan pekerja dilakukan melalui pemberian gaji lebih tinggi, membuka pusat penitipan anak agar pekerja dapat mengurus anak sambil bekerja, serta menyediakan tunjangan dan insentif.
Pandangan serupa disampaikan Phan Hong Minh, pendiri dan CEO HMC Clean House Service Development Joint Stock Company (JupViec.vn). Ia menilai salah satu penyebab sektor ini “stagnan” adalah kekurangan sumber daya manusia. Minh mengatakan bahwa meski perusahaannya telah beroperasi 14 tahun, perekrutan tenaga kerja sesuai kebutuhan masih sulit. Pada masa awal, ia mengaku harus mendatangi rumah-rumah kos hingga area pembersihan untuk mengajak orang bergabung, sebelum kemudian perekrutan terbantu oleh rekomendasi dari mulut ke mulut.
Sejumlah usulan kebijakan dan dukungan pun mengemuka untuk mendorong ekonomi perawatan berkembang menjadi sektor ekonomi yang lebih mapan. Ngoc mengusulkan pengakuan kode pelatihan untuk bidang perawatan lansia, serta dukungan pajak bagi bisnis yang berinvestasi di sektor ini. Ia juga mendorong pusat-pusat perawatan lansia membangun forum bersama untuk menyatukan suara dan membahas solusi pembangunan pasar yang berkelanjutan. Menurutnya, kontribusi perawatan lansia bagi masyarakat membutuhkan pengakuan dan kebijakan yang lebih tepat.
Dari sisi pemberdayaan ekonomi perempuan, Manajer Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan UN Women Vietnam, Nguyen Kim Lan, menyebut beberapa kebutuhan untuk mendorong pengembangan sektor ini. Di antaranya peningkatan akses pendanaan bagi usaha, dukungan bagi usaha milik perempuan melalui pelatihan manajemen bisnis dan operasional serta investasi teknologi informasi, kemudahan akses layanan seperti operasi produksi ramah lingkungan dan kemitraan yang beragam, serta dukungan negara berupa infrastruktur, insentif pajak, dukungan keuangan, dan lahan.
Sementara itu, Ketua Serikat Wanita Kota Da Nang, Hoang Thi Thu Huong, menyatakan organisasi yang dipimpinnya akan memberi masukan kepada pimpinan kota dan menargetkan Da Nang menjadi pelopor model perawatan lansia di Vietnam. Serikat Wanita Da Nang berencana meneliti situasi perawatan lansia di wilayahnya, mengumpulkan data untuk kebutuhan pasar, dan mendorong komunikasi publik guna membantu mengubah persepsi serta menyiapkan tenaga kerja sesuai tuntutan.
Dukungan pemerintah juga dinilai penting untuk mengembangkan ekonomi layanan kesehatan karena biaya layanan yang tinggi. Dalam pandangan yang disampaikan, keterlibatan fasilitas kesehatan swasta dipandang diperlukan untuk meringankan beban layanan kesehatan publik, terutama bila seluruh masyarakat bergantung pada fasilitas negara saat sakit.
Apoteker Nguyen Thi Minh Tam, Direktur Perusahaan MCT Vietnam, menekankan pentingnya dukungan pemerintah agar masyarakat dapat memperoleh manfaat dari kebijakan perawatan kesehatan terbaik. Ia mencontohkan layanan penguraian genetik yang dinilai bermakna karena dapat membantu mengatasi akar berbagai masalah kesehatan. Menurutnya, dengan subsidi dan mekanisme dukungan, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan proaktif dapat lebih merata. Ia menambahkan, jika pemahaman masyarakat tepat, pemerintah menyediakan dukungan, dan bisnis berkolaborasi dalam implementasi, manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

