BERITA TERKINI
Ekonomi Bengkulu Diproyeksikan Tumbuh 4,82 Persen pada 2025 di Tengah Tekanan Global

Ekonomi Bengkulu Diproyeksikan Tumbuh 4,82 Persen pada 2025 di Tengah Tekanan Global

Pemerintah Provinsi Bengkulu menyatakan optimistis perekonomian daerah tetap tumbuh sebesar 4,82 persen pada 2025 meskipun menghadapi tekanan geopolitik global. Optimisme tersebut disampaikan Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu, RA Denni, di Bengkulu, Kamis.

RA Denni mengatakan, situasi global di Timur Tengah diharapkan tidak memberikan dampak signifikan terhadap Bengkulu. Ia menyebutkan, adanya gencatan senjata di kawasan konflik menjadi salah satu alasan harapan pemerintah daerah agar dampak ekonomi global tidak berimbas ke perekonomian Bengkulu.

Untuk mengantisipasi tekanan ekonomi, Pemprov Bengkulu bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus menyiapkan langkah pencegahan. Upaya yang dilakukan antara lain mengoptimalkan swasembada pangan melalui pencetakan lahan baru, menjalankan program Sahesade (satu hektare satu desa) untuk lahan pertanian seperti jagung, serta memberikan stimulus pertanian.

Selain itu, pemerintah daerah berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pangan di tingkat masyarakat. Menurut RA Denni, inflasi yang terkendali dapat menciptakan iklim positif bagi perekonomian dan mendorong pertumbuhan sektor ekonomi baru.

Ia menyampaikan stabilitas ekonomi Bengkulu tercermin dari inflasi yang tetap terkendali pada level 2,7 persen secara tahunan pada 2025.

RA Denni juga menjelaskan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada 2025 tercatat sebesar 4,82 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 4,62 persen (year on year/yoy). Capaian tersebut dinilai mendekati rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatra dan relatif sejalan dengan pertumbuhan nasional.

Sejumlah sektor disebut masih menjadi penopang utama perekonomian Bengkulu, terutama pertanian dan perkebunan—khususnya kelapa sawit dan kopi—serta perikanan dan perdagangan. Pemerintah daerah juga melanjutkan berbagai program strategis, mulai dari ketahanan pangan, cetak sawah, pengembangan kopi, penguatan UMKM, hingga optimalisasi distribusi antarwilayah.

Di sisi lain, pengendalian inflasi yang terjaga disebut menjadi indikator penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah.