Penguatan relatif dolar Singapura dinilai memberi status safe-haven bagi ekuitas lokal di tengah ketidakpastian global. Daniel Lau, manajer dana di Eastspring Investments Singapura, mengatakan kekuatan mata uang tersebut membantu menopang pasar, seraya menambahkan bahwa upaya EMDP juga memberikan dukungan valuasi dalam situasi global yang belum menentu.
Pergerakan pasar saham Singapura sejauh ini cenderung lebih stabil. Straits Times Index (STI) tercatat relatif bertahan dibandingkan posisinya pada awal pecahnya perang, dan tampil lebih baik daripada indeks MSCI Asia yang turun 4,9%. Secara keseluruhan, saham-saham di Asia masih memerlukan penguatan sekitar 5% untuk menutup kerugian sejak konflik tersebut.
Meski menunjukkan ketahanan, bursa Singapura sempat tertinggal dari sejumlah pasar Asia lain pada pekan ini. Kondisi itu terjadi setelah pengumuman gencatan senjata memicu reli pemulihan global. Reli di kawasan yang dipimpin saham teknologi turut mendorong bursa Taiwan mendekati rekor tertingginya. Jika perang benar-benar berakhir, saham teknologi diperkirakan melonjak, yang secara relatif berpotensi menempatkan Singapura pada posisi kurang diuntungkan.
Namun demikian, sejumlah analis masih melihat peluang lanjutan bagi pasar Singapura, terutama jika penguatan mata uang berlanjut. Dolar Singapura diperkirakan mendapat dorongan dari kemungkinan pengetatan kebijakan oleh Otoritas Moneter Singapura (MAS) dalam pertemuan pada Selasa (14/4). Langkah tersebut disebut berpotensi dilakukan melalui peningkatan laju apresiasi dolar Singapura terhadap mata uang mitra dagang utamanya.
Thilan Wickramasinghe, Kepala Riset di Maybank Securities, menilai Singapura berada pada titik pertemuan antara arus dana safe-haven—terutama di tengah ketidakpastian di Timur Tengah—dan pendorong likuiditas domestik yang berasal dari reformasi pasar serta ledakan sektor konstruksi. Menurutnya, kombinasi faktor itu mendukung ekuitas Singapura untuk tetap relatif kuat dibandingkan ekuitas global lainnya.