JAKARTA — CEO BlackRock Larry Fink memperingatkan ekonomi global berisiko masuk ke jurang resesi apabila konflik yang melibatkan Iran berlangsung lebih dari satu tahun. Menurutnya, durasi konflik yang panjang akan mendorong kenaikan harga energi dan menekan aktivitas ekonomi dunia.
“Jika perang berlarut-larut selama setahun, harga energi akan semakin naik dan ekonomi global akan memasuki resesi,” kata Fink dalam wawancara dengan EL PAÍS.
Fink menilai arah perekonomian global sangat bergantung pada bagaimana konflik tersebut berakhir. Ia menyebut, bila kawasan menjadi lebih stabil dan Iran lebih terbuka, harga minyak berpeluang turun. Namun jika ketegangan terus berlanjut, harga energi diperkirakan naik lebih tinggi dan memberi tekanan tambahan pada pasar keuangan global.
Dalam skenario ketegangan yang berlarut-larut, Fink menegaskan pelemahan pasar saham bukan terutama dipicu oleh persoalan valuasi, melainkan perubahan kondisi makroekonomi yang lebih luas.
Di tengah ketidakpastian, Fink tetap mendorong pendekatan investasi jangka panjang. Ia menilai fokus berlebihan pada gejolak jangka pendek dapat merugikan masyarakat dan memperlebar kesenjangan, terutama bagi kelompok yang tidak berinvestasi.
Fink juga menyoroti pergeseran arah globalisasi menuju model yang lebih mandiri. Menurutnya, sejumlah negara diperkirakan akan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global, meski langkah tersebut dinilai lebih mahal dalam jangka pendek.
Selain itu, ia mengingatkan dampak besar kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja dan ketimpangan. Fink menilai dunia belum cukup siap menghadapi perubahan tersebut, sementara kebutuhan investasi pada sektor energi dan infrastruktur juga akan meningkat.
Dalam konteks Eropa, Fink menyebut Spanyol sebagai salah satu titik terang pertumbuhan. Ia menilai negara itu memiliki perusahaan global, infrastruktur yang kuat, serta ekonomi yang relatif dinamis.
Sementara itu, BlackRock disebut terus memperluas bisnis, termasuk di aset alternatif dan proyek global seperti rekonstruksi Ukraina. Fink menegaskan fokus perusahaan tetap pada penyediaan solusi investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik.