Bursa saham Singapura berada di ambang rekor tertinggi baru, seiring aset-aset di negara kota tersebut semakin dipandang sebagai tempat perlindungan aman (safe haven) oleh investor di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari yang memicu lonjakan harga energi dunia, ekuitas Singapura disebut menjadi yang paling tangguh di kawasan dengan tingkat penurunan terendah. Singapura juga berpeluang menjadi pasar utama Asia pertama yang mencetak rekor tertinggi sejak konflik bermula, didukung oleh kinerja dolar Singapura yang melampaui mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Perkembangan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan lalu. Presiden AS Donald Trump menyatakan AS akan memulai blokade angkatan laut penuh di Selat Hormuz yang strategis, sebuah langkah yang diperkirakan dapat memicu babak baru kekacauan di pasar global.
Singapura dinilai diuntungkan oleh dua faktor utama. Pertama, program pengembangan pasar ekuitas (Equity Market Development Programme/EMDP) yang dibentuk tahun lalu diperkirakan akan menyuntikkan dana miliaran dolar untuk mendongkrak valuasi dan meningkatkan daya tarik bagi investor. Kedua, komposisi indeks utama Singapura didominasi saham-saham dengan dividen tinggi, seperti DBS Group Holdings dan OCBC, yang bersama-sama mencakup lebih dari 40% bobot indeks.