Bursa saham Asia menguat, dengan indeks regional naik 0,4% di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan geopolitik dan harga energi. Kenaikan dipimpin oleh saham Korea Selatan yang melonjak 1,7% setelah pemerintah mengisyaratkan kemungkinan adanya anggaran tambahan.
Di Jepang, saham turut menguat setelah negara itu mengamankan pasokan yang cukup untuk memenuhi setidaknya empat bulan kebutuhan nafta.
Sentimen pasar juga dipengaruhi unggahan Presiden AS Donald Trump yang dinilai sulit ditafsirkan. Namun, menurut Kazuhiro Sasaki, kepala riset di Phillip Securities Japan, unggahan tersebut tampak mengindikasikan tenggat waktu serangan AS terhadap infrastruktur Iran telah diperpanjang hingga Selasa. Pasar menanggapi hal itu secara positif, yang menurut Sasaki memberi investor alasan untuk membeli kembali saham yang sebelumnya telah mereka jual.
Perang Iran disebut cepat memperburuk prospek ekonomi, dengan risiko mendinginkan pertumbuhan dan mendorong kenaikan inflasi yang sudah tinggi. Kondisi ini turut mengacaukan spekulasi pasar mengenai apakah Federal Reserve akan melanjutkan pemotongan suku bunga pada akhir tahun ini.
Perhatian investor tetap tertuju pada pergerakan harga energi serta potensi penutupan Selat Hormuz, jalur air yang dinilai sangat penting bagi aliran minyak dari Timur Tengah.