Bursa saham Eropa menutup perdagangan Kamis (2/4/2026) dengan pergerakan yang berbalik arah dibandingkan awal sesi. Indeks STOXX 600 tetap berakhir di zona merah, tetapi pelemahannya menipis setelah sempat tertekan hingga sekitar 1,6% pada perdagangan intraday.
Sejak pembukaan, tekanan jual mendominasi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik Iran dan Amerika Serikat. Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko, terutama pada sektor yang sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan biaya energi.
Sentimen pasar kemudian membaik setelah muncul laporan bahwa Iran bersama Oman tengah menyusun mekanisme pemantauan di Selat Hormuz. Kabar ini menjadi titik balik pergerakan intraday karena Selat Hormuz dipandang krusial bagi pasokan energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur tersebut. Harapan bahwa jalur ini kembali terbuka turut meredakan tekanan pada ekspektasi inflasi energi, sehingga aksi jual berangsur berkurang menjelang penutupan.
Meski demikian, pemulihan tidak berlangsung penuh. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan rencana serangan lanjutan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan kembali menahan perbaikan sentimen. Risiko yang tetap tinggi membuat investor belum sepenuhnya kembali masuk ke pasar.
Perbedaan arah juga terlihat pada indeks utama. DAX Jerman dan CAC Prancis ditutup melemah, sementara FTSE 100 Inggris menguat. Pergerakan yang terpecah ini mencerminkan rotasi terbatas serta ketahanan pada saham-saham tertentu yang memiliki eksposur berbeda terhadap dinamika energi global.
Dari sisi sektoral, tekanan paling nyata terjadi pada saham teknologi, pertambangan, dan perbankan. Pelemahan di sektor-sektor tersebut menunjukkan perhatian pasar mulai bergeser dari isu inflasi semata menuju potensi perlambatan ekonomi. Ketika harga energi berisiko bertahan tinggi, biaya produksi dapat meningkat dan margin tertekan, sehingga saham-saham siklikal menjadi lebih rentan.
Kepala riset ekuitas State Street, Marija Veitmane, menilai kekhawatiran pasar kini tidak lagi berhenti pada inflasi, melainkan mulai mengarah pada risiko pertumbuhan yang lebih luas. Sejalan dengan itu, volatilitas meningkat, tercermin dari indeks volatilitas STOXX yang naik ke level 28,5, menandakan lonjakan ketidakpastian dalam waktu singkat.
Di sisi kebijakan moneter, pasar juga menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Data LSEG menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan tiga kali kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa hingga akhir tahun, masing-masing 25 basis poin. Proyeksi ini berubah dibandingkan sebelum konflik, ketika ekspektasi cenderung mengarah pada kebijakan yang lebih stabil. Kenaikan suku bunga di tengah risiko perlambatan ekonomi menjadi tambahan tekanan bagi valuasi saham, sehingga pemulihan indeks tidak berlangsung kuat meski ada kabar positif dari sisi geopolitik.
Di tengah kondisi yang terfragmentasi, pergerakan saham individual menonjol. Saham Stellantis naik lebih dari 4% setelah laporan mengenai penjajakan produksi kendaraan listrik di Kanada bersama mitra dari China.
Perdagangan juga berlangsung lebih tipis dari biasanya karena libur panjang Paskah membuat sebagian bursa Eropa tutup lebih awal atau tidak beroperasi. Likuiditas yang menurun membuat pergerakan harga lebih sensitif terhadap arus transaksi yang relatif kecil, sehingga memperbesar amplitudo pergerakan intraday.
Dengan dinamika tersebut, pasar Eropa bergerak di antara harapan jangka pendek terkait potensi normalisasi jalur energi global dan risiko geopolitik yang masih tinggi, ditambah penyesuaian ekspektasi suku bunga yang memperberat sentimen ekuitas.