Bursa saham Asia menguat tajam pada perdagangan Rabu, 8 April 2026, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong perubahan sentimen global dari risk-off menjadi risk-on. Katalis utama penguatan datang dari penurunan harga minyak setelah adanya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Penguatan terjadi secara luas di kawasan. Indeks Kospi melesat 5,93 persen ke level 5.820,48, Nikkei naik 4,96 persen menjadi 56.078,83, Hang Seng menguat 2,79 persen ke 25.817,35, dan SSE Composite bertambah 1,89 persen ke 3.963,88.
Menurut laporan Reuters, kenaikan pasar dipicu harapan bahwa distribusi energi global dapat kembali lebih normal. Ekspektasi pasar menguat setelah muncul perkiraan bahwa arus energi melalui Selat Hormuz berpeluang kembali berjalan, yang kemudian menekan harga minyak dunia.
Minyak mentah WTI tercatat turun sekitar 16 persen ke USD94,59 per barel, sementara Brent melemah sekitar 15 persen ke USD92,35 per barel. Penurunan harga minyak ini menjadi katalis reli pasar karena meredakan tekanan inflasi global yang sebelumnya membebani aset berisiko, terutama bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi.
Selain faktor energi, pergerakan pasar juga dipengaruhi perubahan ekspektasi investor terhadap risiko global. Reuters mencatat, sebelum muncul sinyal de-eskalasi, pasar berada dalam kondisi “binary”, yakni antara skenario eskalasi besar atau resolusi cepat. Ketika risiko terburuk mulai mereda, pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai reli ini belum sepenuhnya mencerminkan keyakinan jangka panjang. Head of Financial Markets Strategy Westpac, Martin Whetton, mengatakan investor baru akan meningkatkan pengambilan risiko jika situasi geopolitik benar-benar jelas dan perdamaian bertahan lama. “Apakah ini berarti investor akan mulai mengambil risiko baru? Tidak. Hal itu hanya akan terjadi jika benar-benar ada perdamaian yang bertahan lama. Saat ini, investor sebenarnya belum benar-benar mengambil risiko,” ujarnya seperti dikutip Reuters, 8 April 2026.
Pergerakan tersebut juga mencerminkan penyesuaian posisi setelah periode volatilitas tinggi. Reuters menyebut saham-saham yang sebelumnya tertekan oleh lonjakan harga energi, termasuk sektor transportasi dan saham-saham siklikal, mulai pulih seiring berkurangnya tekanan biaya.
Analis Capital.com, Kyle Rodda, menilai perkembangan ini sebagai titik balik sementara yang selama ini diharapkan pasar. Ia menyebut de-eskalasi berpotensi menjadi puncak dari eskalasi dan volatilitas yang terjadi sebelumnya.
Penguatan bursa Asia juga sejalan dengan reli di pasar global. Kontrak berjangka S&P 500 dilaporkan naik lebih dari 2 persen, sementara bursa Eropa melonjak lebih dari 4 persen, mencerminkan penguatan yang terjadi serempak di berbagai kawasan. Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana, mengatakan sinyal de-eskalasi positif bagi pasar, terutama dengan potensi dibukanya kembali Selat Hormuz karena dapat mengurangi guncangan harga minyak dan mendukung sentimen risiko.
Namun Reuters juga mencatat, harga minyak kemungkinan tidak akan segera kembali ke level sebelum konflik, sehingga tekanan inflasi global dinilai belum sepenuhnya hilang.