Pasar saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada Senin, 13 April 2026, di tengah perhatian investor terhadap rencana blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan Iran. Rencana tersebut mencuat setelah pembicaraan antara Washington dan Teheran dilaporkan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 tercatat turun 0,84 persen dan Topix melemah 0,42 persen. Di Korea Selatan, Kospi turun 1,83 persen, sementara indeks Kosdaq terkoreksi 1,43 persen. Bursa Australia juga bergerak turun, dengan indeks S&P/ASX 200 melemah 0,74 persen.
Untuk Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di level 25.964, dibandingkan penutupan terakhir indeks Hang Seng di 25.893,54.
Dari pasar AS, kontrak berjangka Wall Street bergerak negatif. Dow Jones Industrial Average futures turun 517 poin atau 1,1 persen. Sementara itu, S&P 500 futures melemah 1,1 persen dan Nasdaq 100 futures turun 1,2 persen.
Kegagalan negosiasi akhir pekan di Islamabad kembali memicu kekhawatiran bahwa perang antara AS dan Iran dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan menambah tekanan terhadap perekonomian global.
Harga minyak mentah melonjak pada Minggu, 12 April 2026, setelah pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan dan AS bergerak menuju blokade lalu lintas pelabuhan Iran. West Texas Intermediate (WTI) naik 8,56 persen menjadi USD104,84 per barel, sedangkan Brent menguat 8,61 persen ke USD103,38 per barel.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan udara terhadap Iran, sebagaimana diberitakan Wall Street Journal.