BERITA TERKINI
BI Sulsel: Perang Dagang Dorong Perlambatan Ekonomi, Pertanian Sulsel Tumbuh 10,52% pada Triwulan I

BI Sulsel: Perang Dagang Dorong Perlambatan Ekonomi, Pertanian Sulsel Tumbuh 10,52% pada Triwulan I

Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sulawesi Selatan kembali menggelar forum Sulsel Talk 2025 untuk membahas isu perang dagang global dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Ekonomi Sulsel di pusaran perang dagang global 2.0: menakar risiko menjemput peluang” dan berlangsung di Kantor BI Makassar, Rabu (14/5/2025).

Kepala BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan pengumuman tarif resiprokal oleh Amerika Serikat terhadap sejumlah negara memicu meningkatnya fragmentasi ekonomi global serta menurunkan volume perdagangan dunia. Kondisi itu, menurutnya, turut mendorong kenaikan indeks ketidakpastian kebijakan ekonomi (economic policy uncertain).

Ia menyebut sejumlah lembaga, termasuk IMF, World Bank, dan Bank Indonesia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini melambat dari 3,2 persen menjadi 2,9 persen. Dalam paparannya, Rizki juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat turun menjadi 2 persen, sementara Tiongkok diperkirakan turun menjadi 4 persen dari sebelumnya 5 persen. Di sisi lain, Jepang dan kawasan Eropa disebut mengalami peningkatan.

Di tingkat nasional, Rizki menyampaikan perekonomian Indonesia pada triwulan I mengalami penurunan dari 5,02 persen menjadi 4,87 persen. Ia menilai perlambatan terjadi pada seluruh komponen dari sisi pengeluaran, sementara dari sisi lapangan usaha sebagian besar juga melambat.

Namun, ia menekankan sektor pertanian menjadi pengecualian. Di Sulawesi Selatan, pertumbuhan sektor pertanian disebut meningkat pesat, dari 0,71 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 10,52 persen pada triwulan I. “Jadi memang growth driver-nya itu di triwulan 1 adalah di sektor pertanian,” ujarnya.

Rizki juga memaparkan secara spasial pertumbuhan ekonomi nasional tertinggi berada di Sulawesi, yakni 6,40 persen. Sementara itu, Kalimantan berada di 4,32 persen, Sumatera 4,8 persen, Jawa 4,9 persen, Bali-Nusa Tenggara 3,12 persen, dan Maluku-Papua disebut ada yang mencatat pertumbuhan negatif.

Menurutnya, pertumbuhan 6,40 persen di Sulawesi sebagian besar disumbang oleh Sulawesi Selatan. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan peran Sulawesi Selatan sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.