Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan ruang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) ke depan semakin terbatas seiring dampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap perekonomian global.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4), Perry mengatakan BI mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada Maret 2026. Namun, ia menilai peluang penurunan suku bunga ke depan kian menyempit.
Perry menjelaskan eskalasi konflik yang juga melibatkan Israel telah mendorong kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) untuk tenor 2 tahun maupun 10 tahun. Kondisi itu, menurutnya, dipicu tekanan defisit fiskal AS yang meningkat akibat pembiayaan perang.
“Kami harus menyikapinya untuk menggunakan stabilitas,” ujar Perry.
Ia juga menilai konflik yang berkepanjangan memperburuk prospek ekonomi global. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 berada di 3,1 persen, lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya 3,2 persen.
Dalam konferensi pers sebelumnya, Perry menyebut lonjakan harga minyak dunia berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara. Dampak tersebut dinilai menekan prospek pertumbuhan ekonomi global sekaligus meningkatkan tekanan inflasi.
BI memperkirakan inflasi global meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. Kenaikan inflasi ini berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk menunda penurunan suku bunga acuan bank sentral AS.
Di sisi lain, Perry menyoroti memburuknya kondisi pasar keuangan global, yang ditandai penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta arus modal keluar dari negara berkembang.
“Suku bunga yield US Treasury terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal AS, termasuk kenaikan anggaran untuk pembiayaan perang,” kata Perry.