Bank Indonesia (BI) memperkuat literasi keuangan digital generasi muda melalui peresmian Gerai Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan atau Gerai Cerdas PeKA di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Peresmian dilakukan di Sekolah Vokasi UNS, Solo, Jawa Tengah, Jumat.
Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI Anton Daryono mengatakan gerai tersebut dihadirkan sebagai ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami pelindungan konsumen. Materi yang disampaikan mencakup kepedulian dan keamanan data pribadi, pengenalan berbagai modus penipuan, hingga cara mengatasi risiko dengan tindakan cepat dan tepat saat bertransaksi digital.
Menurut Anton, program ini merupakan upaya kolektif untuk melindungi hak masyarakat sebagai konsumen di sektor keuangan sekaligus mendorong terbentuknya generasi muda yang lebih cerdas, kritis, dan terlindungi dalam ekosistem keuangan digital.
Peresmian Gerai Cerdas PeKA juga menjadi bagian dari kampanye nasional Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK). Kampanye ini disebut sebagai langkah konkret hasil kolaborasi regulator, pelaku industri, asosiasi, dan institusi pendidikan untuk memperkuat edukasi serta pelindungan konsumen secara berkelanjutan.
Anton menilai mahasiswa memiliki peran strategis sebagai digital native karena tidak hanya aktif menggunakan teknologi, tetapi juga dapat menjadi agen edukasi di lingkungannya. Melalui pendekatan kolaboratif, BI ingin mendorong perilaku transaksi digital yang aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Gerai tersebut merupakan hasil kolaborasi BI, DANA Indonesia, dan Sekolah Vokasi UNS. Chief of Legal and Compliance DANA Dina Artarini menyampaikan bahwa penguatan literasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan adopsi teknologi. Ia mengutip data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menunjukkan literasi keuangan nasional berada di angka 66,46 persen, lebih rendah dibanding inklusi keuangan sebesar 80,51 persen.
Dina menilai kondisi itu menunjukkan perluasan akses harus diiringi penguatan pemahaman masyarakat, termasuk mengenai risiko transaksi di ruang digital. Melalui inisiatif ini, DANA berharap dapat mendorong kebiasaan bertransaksi yang lebih waspada agar kepercayaan terhadap ekosistem digital tetap terjaga.
Gerai Cerdas PeKA dirancang sebagai platform edukasi hibrida, baik luring maupun daring. Mahasiswa dapat mengakses materi pelindungan konsumen, mengikuti kampanye digital, serta berpartisipasi dalam kegiatan seperti seminar keamanan transaksi digital, tantangan media sosial untuk menyebarkan edukasi, kompetisi inovasi terkait pelindungan konsumen, hingga diskusi interaktif bersama industri.
Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Sekolah Vokasi UNS dan Asosiasi Fintech Indonesia mengenai peningkatan literasi keuangan digital serta pengembangan sumber daya manusia digital dan Program Kampus Berdampak.
Rektor UNS Prof Hartono mengatakan transformasi digital di sektor keuangan berkembang sangat cepat, namun tidak selalu diikuti kesiapan literasi masyarakat. Ia merujuk Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2024 yang mencatat tingkat literasi keuangan Indonesia sekitar 65,43 persen. Artinya, dari 100 orang, sekitar 65 orang dinilai benar-benar memahami produk dan layanan keuangan dengan baik.
Di sisi lain, Hartono menyebut tingkat inklusi keuangan telah mencapai sekitar 75 persen, menunjukkan akses layanan keuangan meningkat lebih cepat dibanding pemahaman masyarakat. Menurutnya, kesenjangan tersebut membuat banyak orang telah menggunakan layanan keuangan digital, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko dan cara penggunaan yang bijak.
Hartono juga menyoroti meningkatnya kasus penipuan keuangan digital. Ia menyampaikan data terbaru yang menunjukkan sejak akhir 2024 hingga 2025 terdapat lebih dari 225.000 laporan kasus penipuan keuangan dengan total kerugian sekitar Rp4,6 triliun. Selain itu, ia menyebut ribuan pengaduan terkait pinjaman online ilegal masih terus terjadi.
Dalam konteks tersebut, Hartono berharap kehadiran Gerai Cerdas PeKA dapat berkontribusi membangun generasi muda yang cerdas bertransaksi digital, mampu mengenali risiko keuangan, dan bijak memanfaatkan teknologi finansial.