BERITA TERKINI
BI Nilai Ekonomi Global Masih Melambat akibat Tarif AS, Ketidakpastian Tetap Tinggi

BI Nilai Ekonomi Global Masih Melambat akibat Tarif AS, Ketidakpastian Tetap Tinggi

Bank Indonesia (BI) menilai perekonomian dunia masih berada dalam tren perlambatan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang membuat ketidakpastian global tetap tinggi. Kondisi tersebut dinilai perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan dampak rambatan ke perekonomian domestik dan pasar keuangan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perkembangan global menuntut kewaspadaan serta penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2025 yang digelar secara daring dari Jakarta, Rabu.

BI mencatat AS kembali mengenakan tarif tambahan pada sektor farmasi, mebel, dan otomotif sejak 1 Oktober 2025. AS juga mengumumkan rencana pengenaan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap produk asal Tiongkok.

Sejumlah indikator menunjukkan kebijakan tarif AS melemahkan kinerja perdagangan global. Perlambatan tersebut tercermin dari melambatnya ekspor dan impor di sebagian besar negara.

Di AS, pertumbuhan ekonomi disebut masih lemah sehingga mendorong berlanjutnya penurunan kondisi ketenagakerjaan. Sementara itu, ekonomi Jepang, Eropa, dan India dinilai belum kuat, dipengaruhi konsumsi rumah tangga di tengah stimulus fiskal dan moneter yang telah dilakukan. Adapun perekonomian Tiongkok pada triwulan III-2025 meningkat, didorong oleh stimulus fiskal.

Perkembangan itu memengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 yang diperkirakan sebesar 3,1 persen, sedikit di atas perkiraan sebelumnya 3 persen.

Dari sisi kebijakan moneter AS, BI menilai probabilitas penurunan kembali suku bunga kebijakan atau Fed Fund Rate semakin besar sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan AS yang lemah. Sejalan dengan itu, imbal hasil (yield) US Treasury jangka pendek kembali menurun dan indeks mata uang dolar AS (DXY) cenderung melemah.

Meski demikian, BI mencatat aliran modal ke negara-negara emerging market masih berfluktuasi, seiring tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.