Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (KPw BI Jatim) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyepakati langkah-langkah adaptif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kepala KPw BI Jatim, Ibrahim, mengatakan konflik bersenjata di kawasan Jazirah Arab memunculkan sejumlah potensi risiko perekonomian, baik di tingkat regional maupun nasional. Meski demikian, ia menilai kinerja ekonomi Jawa Timur saat ini berada dalam kondisi solid.
“Banyak negara termasuk Indonesia, telah memiliki kemampuan adaptasi yang relatif dalam menghadapi efek dari potensi krisis yang dikhawatirkan terjadi akibat konflik geopolitik internasional, namun demikian kinerja ekonomi Jawa Timur saat ini berada pada posisi yang solid,” ujar Ibrahim dalam acara “Jatim Talk” di Surabaya, Rabu (1/4/2026).
Ibrahim menyebut ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,33% (year on year/yoy) pada 2025. Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal untuk menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang di tengah dinamika global.
Ia juga menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk bertahan menghadapi potensi krisis ekonomi global, salah satunya karena struktur impor yang telah menerapkan diversifikasi dan tidak bergantung pada satu negara tertentu. Ibrahim menjelaskan, kondisi itu membuat pasokan relatif lebih merata meski harga berpotensi meningkat di tengah fragmentasi perdagangan.
“Harga mungkin meningkat, tetapi pasokan cukup merata. Beda halnya ketika harga naik, barang kosong. Ini celaka. Jadi kita pahami, harga barang mungkin naik, tapi pasokan di berbagai negara yang selama ini kita jadikan sumber bahan baku masih ada, meskipun ada fragmentasi perdagangan,” katanya.
Selain faktor diversifikasi impor, Ibrahim menekankan kekuatan konsumsi domestik sebagai tumpuan utama perekonomian Jawa Timur maupun nasional dalam menghadapi tekanan eksternal. Ia menyebut proporsi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 60% dapat berperan sebagai penyangga ketika terjadi dampak dari luar.
“Proporsi konsumsi rumah tangga yang besar yang mencapai 60% setidaknya ini menjadi buffer ketika ada external impact. Kita pastikan daya beli, kita jaga inflasi, kita pastikan bansos tetap terjaga dengan baik. Sehingga dampak yang berasal dari eksternal mungkin dia akan mengurangi eksposur degree of openness di profil ekonomi Jawa Timur,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Ibrahim mengajak para pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara kewaspadaan dan optimisme. Ia mengingatkan agar tidak bersikap berlebihan, baik dalam pesimisme maupun optimisme, mengingat situasi global masih belum sepenuhnya stabil.
“Kita harus balance, jangan kemudian terlalu pesimis. Kita sebetulnya juga ada optimisme yang perlu kita kelola untuk mengimbangi pesimisme ini. Secara on the net balance kita mungkin terdampak, tetapi tidak terlalu besar karena kita sudah mensiasati dengan lebih baik lagi,” ujarnya.
Pada acara yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan peran strategis Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara”. Khofifah menginstruksikan penguatan kerja sama perdagangan antar daerah serta percepatan hilirisasi komoditas strategis.
“Sebagai lumbung pangan nasional, Jawa Timur juga fokus pada penguatan distribusi dan peningkatan kualitas SDM guna menjaga stabilitas pasokan,” pungkasnya.