BERITA TERKINI
Bank Dunia: Tekanan Global Diproyeksi Tekan Daya Beli dan Perlambat Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik hingga 2026

Bank Dunia: Tekanan Global Diproyeksi Tekan Daya Beli dan Perlambat Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik hingga 2026

Tekanan ekonomi global diperkirakan masih membayangi kawasan Asia Timur dan Pasifik hingga 2026. Bank Dunia menilai kenaikan harga energi, konflik geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Dalam paparan Bank Dunia, Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo mengatakan sebagian besar negara di kawasan tersebut diperkirakan mengalami perlambatan ekonomi pada tahun ini.

“Sebagian besar negara akan tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya, dikutip Kamis (9/4/2026).

Mattoo menjelaskan, lonjakan harga minyak dan gas menjadi pemicu utama tekanan. Kenaikan biaya energi mendorong ongkos produksi di berbagai sektor dan kemudian menjalar ke harga barang dan jasa.

“Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi, termasuk energi, pupuk, dan pangan,” katanya.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha. Tekanan biaya juga dinilai langsung memengaruhi masyarakat. Jika harga energi bertahan tinggi, pendapatan tenaga kerja di kawasan diperkirakan dapat turun sekitar 3 hingga 4 persen.

Kelompok berpenghasilan rendah disebut paling rentan karena sebagian besar pengeluaran mereka dialokasikan untuk kebutuhan dasar. Namun, tekanan juga mulai dirasakan kelas menengah seiring meningkatnya biaya hidup.

Selain faktor energi, ketidakpastian kebijakan global turut memperberat situasi. Pelaku usaha cenderung menahan investasi dan lebih berhati-hati dalam ekspansi, yang pada akhirnya memperlambat pemulihan ekonomi.

Kondisi tersebut ikut berdampak pada pasar tenaga kerja. Perusahaan dinilai semakin memilih skema kerja fleksibel atau kontrak, yang mendorong peningkatan pekerjaan informal dan ekonomi gig. Skema ini dapat membuka peluang kerja, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian pendapatan bagi pekerja.

Di tengah tekanan yang besar, Bank Dunia menilai peluang pertumbuhan baru tetap terbuka, salah satunya melalui perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, lembaga itu mengingatkan kesiapan sumber daya manusia masih menjadi tantangan karena banyak tenaga kerja belum memiliki keterampilan dasar maupun kemampuan teknis untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Bank Dunia menilai tanpa perbaikan di sektor pendidikan dan pelatihan, potensi peningkatan produktivitas dari AI dikhawatirkan sulit tercapai. Dengan tekanan global yang belum mereda, masyarakat di kawasan kini dihadapkan pada dua risiko sekaligus, yakni kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.