Prediksi terbaru Bank Dunia (World Bank) mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia memicu perdebatan di kalangan pembuat kebijakan. Dalam laporannya, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,7%, proyeksi yang dinilai terlalu pesimistis oleh otoritas di dalam negeri.
Menanggapi proyeksi tersebut, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perhitungan Bank Dunia berpotensi tidak akurat. Ia bahkan menyebut adanya kemungkinan “salah hitung” dalam analisis yang digunakan lembaga internasional itu.
Menurut Purbaya, proyeksi Bank Dunia belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian domestik. Ia menilai sejumlah indikator di dalam negeri justru menunjukkan tren yang cukup positif, terutama dari sisi konsumsi masyarakat dan aktivitas industri.
“Saya pikir mereka salah hitung. Kita punya data yang lebih update dan menunjukkan hasil yang jauh lebih baik daripada sekadar 4,7 persen,” kata Purbaya.
Ia menambahkan, pemulihan ekonomi nasional pascapandemi dinilai terus menguat secara konsisten. Purbaya menunjuk beberapa perkembangan yang ia nilai mendukung, seperti meningkatnya daya beli masyarakat, perbaikan sektor manufaktur, serta stabilnya kinerja sektor jasa yang selama ini menjadi penopang perekonomian.
Di tengah tekanan global, termasuk perlambatan ekonomi dunia dan volatilitas harga komoditas, pemerintah tetap menyatakan optimisme. Fundamental ekonomi disebut masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Dalam pandangan otoritas domestik, stabilitas kebijakan moneter serta belanja pemerintah yang tetap ekspansif diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melampaui proyeksi konservatif lembaga internasional. Sikap kritis terhadap prediksi Bank Dunia juga dipandang sebagai bentuk kepercayaan diri terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Purbaya turut menekankan pentingnya penggunaan data lokal yang lebih spesifik dalam menyusun proyeksi ekonomi. Menurutnya, pendekatan yang bertumpu pada data global saja belum cukup untuk menggambarkan kompleksitas ekonomi Indonesia yang memiliki karakteristik tersendiri.
Ia menilai proyeksi ekonomi seharusnya tidak berhenti pada angka, tetapi mampu merefleksikan kondisi nyata di lapangan, termasuk kebijakan struktural yang sedang dijalankan pemerintah. Otoritas dalam negeri juga mendorong agar lembaga internasional melakukan evaluasi dan pembaruan data secara berkala agar analisis yang dihasilkan lebih akurat dan relevan.
Perbedaan pandangan antara pemerintah Indonesia dan lembaga internasional seperti Bank Dunia dinilai wajar dalam dinamika ekonomi global. Namun, pembaruan data dan pendekatan analisis tetap menjadi kunci agar proyeksi dapat menjadi acuan yang tepat bagi pengambilan kebijakan maupun keputusan investasi.