BERITA TERKINI
Bank Dunia Pangkas Tipis Proyeksi Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik, Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

Bank Dunia Pangkas Tipis Proyeksi Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik, Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

Bank Dunia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai terasa dampaknya terhadap prospek ekonomi global, termasuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kenaikan harga energi serta ketidakpastian yang berkepanjangan disebut menjadi faktor utama yang menekan proyeksi pertumbuhan.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, mengatakan konflik tersebut telah menimbulkan biaya akibat kenaikan harga bahan bakar dan dampak pada kapasitas produksi energi, termasuk minyak dan gas. Ia menilai situasi ini tidak dapat lagi dipandang sebagai gangguan sementara, karena genjatan senjata yang terjadi belum memberikan kepastian jangka panjang.

Menurut Mattoo, kenaikan harga BBM menjadi salah satu jalur utama transmisi dampak konflik terhadap perekonomian. Biaya energi yang lebih tinggi dapat menekan aktivitas industri dan memperlambat pertumbuhan, terutama di negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi. Ketidakpastian terkait prospek perdamaian juga membuat pelaku pasar dan investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Proyeksi pertumbuhan direvisi turun

Meski tekanan meningkat, Bank Dunia menyebut dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan tidak terlalu drastis. Proyeksi pertumbuhan direvisi turun sebesar 0,1 persen dibanding perkiraan sebelumnya. Namun, Mattoo menyebut di sejumlah negara lain penyesuaian proyeksi dapat lebih dalam, bahkan hingga penurunan 4 persen. Meski demikian, ia menilai perubahan secara keseluruhan masih tergolong moderat dan belum menunjukkan perlambatan yang signifikan. Jika konflik dapat segera berakhir, peluang pemulihan dinilai lebih terbuka.

Risiko arus keluar modal

Di sisi lain, Bank Dunia juga menyoroti potensi keluarnya modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Mattoo mengatakan dalam situasi penuh gejolak, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, yang pada akhirnya menambah tekanan bagi negara berkembang.

Ia menilai dinamika pasar keuangan global saat ini bergerak cepat dan dapat memperburuk tantangan negara berkembang dari sisi keuangan. Kondisi tersebut memicu arus keluar modal dari kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, yang berdampak pada pasar saham dan obligasi. Tekanan juga disebut diperparah oleh meningkatnya inflasi di sejumlah negara.

Nilai tukar tertekan dan pasar keuangan yang dangkal

Mattoo menambahkan, pelemahan nilai tukar menjadi indikator lain meningkatnya risiko. Ia mencontohkan baht Thailand yang telah terdepresiasi sekitar 5 persen. Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural, terutama terkait kedalaman pasar keuangan. Pasar modal yang relatif dangkal dinilai membuat gejolak eksternal lebih mudah berdampak terhadap stabilitas ekonomi domestik, meski ia melihat adanya peluang untuk memperdalam pasar guna memperkuat ketangguhan.

Indikasi peningkatan risiko

Mattoo juga menyinggung potensi situasi mengarah pada kondisi krisis, meski masih dalam kategori yang dapat dikendalikan. Salah satu indikator yang ia sebut adalah kenaikan spread obligasi di negara seperti Indonesia dan Filipina yang telah naik sekitar 30 basis poin, mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap instrumen utang negara berkembang.

Menurutnya, jika tren tersebut berlanjut, biaya pendanaan bisa semakin mahal dan menambah tekanan ekonomi. Namun, ia menyatakan harapan bahwa apabila konflik di Timur Tengah mereda, arus modal berpotensi kembali stabil dan tekanan di pasar keuangan dapat membaik.