Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7% pada 2026 masih tergolong wajar di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
Sebelumnya, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi pada Oktober 2025 yang memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 4,8%.
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update April 2026, Bank Dunia menjelaskan perlambatan dipicu oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional atau risk-off sentiment.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai revisi proyeksi tersebut masih realistis mengingat tantangan ekonomi global yang semakin kompleks. Ia menyebut tekanan harga energi dan tingginya ketidakpastian membuat pencapaian pertumbuhan menjadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya.
Dalam kondisi seperti ini, Riefky menilai pemerintah perlu memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga agar konsumsi domestik—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—tidak melemah.
Menurutnya, perlindungan terhadap kelompok berpendapatan rendah perlu menjadi prioritas kebijakan. Ia menilai penguatan program perlindungan sosial dapat membantu menahan dampak tekanan harga energi dan ketidakpastian global terhadap kelompok rentan, sekaligus menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga.
Riefky juga mendorong pemerintah memperluas jaring pengaman sosial sebagai langkah untuk menjaga daya beli masyarakat miskin dan rentan.