BERITA TERKINI
Angka Pernikahan di Indonesia Turun dalam 11 Tahun, Gen-Z Sebut Ekonomi Jadi Alasan Utama Menunda

Angka Pernikahan di Indonesia Turun dalam 11 Tahun, Gen-Z Sebut Ekonomi Jadi Alasan Utama Menunda

Angka pernikahan di Indonesia tercatat menurun dalam 11 tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), jumlah pernikahan turun dari 2,1 juta pada 2014 menjadi 1,4 juta pada 2025.

Penurunan ini mendekati 30 persen dan menggambarkan perubahan pola demografi. Data BPS juga menunjukkan tren penurunan berlangsung konsisten, sempat berada di angka 2 juta pada 2018, lalu merosot tajam pada masa pandemi hingga mencapai 1,47 juta pada 2024.

Di kalangan generasi muda, faktor ekonomi disebut menjadi alasan dominan untuk menunda pernikahan. Ari (26), pekerja swasta di Kota Padang, mengatakan ia belum siap secara finansial untuk membangun rumah tangga.

“Jujur saya merasa belum mapan. Biaya hidup saat ini sudah semakin gila. Saya harus memikirkan banyak hal pasca-pernikahan, mulai dari cicilan rumah, kendaraan yang layak seperti mobil, hingga persiapan biaya pendidikan anak nantinya,” ujar Ari.

Selain ekonomi, Ari menilai kesiapan mental juga menjadi pertimbangan besar. “Persoalan kesiapan mental dan rasa takut akan kegagalan dalam pernikahan juga jadi pertimbangan besar saya,” katanya.

Alasan serupa disampaikan Afdhal (25). Ia menilai tingginya biaya hidup di perkotaan membuat rencana menikah harus ditunda hingga kondisi ekonomi pribadi lebih stabil.

“Untuk kondisi ekonomi sekarang, saya belum berani. Apalagi kalau nanti dapat calon istri yang high maintenance, tentu biayanya akan ekstra. Saya tidak ingin memiliki anak dalam kondisi finansial yang belum stabil karena takut gagal memberikan yang terbaik,” ujar Afdhal.

Afdhal juga mengungkapkan dirinya termasuk sandwich generation, yakni kelompok yang memiliki tanggung jawab ekonomi terhadap orang tua sehingga menjadi prioritas sebelum membangun keluarga baru.

Di luar faktor finansial, ia menilai usia 20-an merupakan fase untuk mengembangkan diri. “Saya masih ingin jalan-jalan dan lanjut sekolah. Masa-masa ini ingin saya pakai untuk membahagiakan diri sendiri dan orang tua dulu sebelum memikul tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga,” lanjutnya.

BPS menilai penurunan angka pernikahan mencerminkan perubahan sikap masyarakat yang semakin rasional, dengan pertimbangan stabilitas ekonomi sebagai salah satu faktor sebelum memutuskan menikah.