Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 4,42% dan ditutup di level 7.279,20 pada perdagangan Rabu, 8 April 2026. Penguatan tajam ini terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik global, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan ke Iran selama dua minggu.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, keputusan tersebut langsung memicu sentimen positif di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Menurutnya, penundaan serangan membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia, terlebih setelah Selat Hormuz kembali dibuka untuk jalur distribusi minyak.
Hendra menyebut meredanya ketegangan tercermin pada sejumlah indikator pasar. Harga minyak dunia dilaporkan turun tajam hingga di bawah USD 100 per barel, disusul penguatan nilai tukar rupiah. Kondisi itu mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko seperti saham, sehingga memicu aksi beli secara luas.
Arus dana yang masuk ke pasar saham mendorong hampir seluruh sektor mencatatkan penguatan. Sektor basic industry menjadi salah satu yang mencatat kenaikan paling signifikan, seiring membaiknya ekspektasi terhadap stabilitas ekonomi global dan berkurangnya tekanan biaya produksi akibat harga energi yang lebih rendah.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa kenaikan IHSG saat ini lebih bersifat sentiment-driven rally ketimbang didorong perubahan fundamental jangka panjang. Artinya, pergerakan pasar masih sangat bergantung pada dinamika geopolitik yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Ia juga menilai karakter kebijakan Donald Trump yang dinamis dan sulit diprediksi menjadi salah satu faktor risiko utama. Jika dalam dua minggu ke depan tidak ada kesepakatan permanen atau justru terjadi eskalasi konflik, IHSG dinilai berpotensi kembali menghadapi tekanan.
Sejalan dengan itu, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan penguatan IHSG juga mengikuti bursa regional Asia yang menguat. Dari sisi sentimen, ia mencermati adanya rencana gencatan senjata AS-Iran dan pembukaan Selat Hormuz, serta turunnya harga minyak dunia yang menjadi katalis positif. Namun, ia menambahkan, dari dalam negeri pasar masih mencermati potensi inflasi dan risiko fiskal.
Herditya turut menyinggung kaitan dengan FTSE Russell, yang masih menangguhkan indeks Indonesia terkait transparansi dan reformasi pasar modal yang sedang dilakukan. Menurutnya, FTSE Russell dijadwalkan meninjau kembali saham-saham Indonesia pada Juni 2026.
Berdasarkan data RTI, IHSG sempat bergerak di rentang 7.118,58 hingga 7.281,86 pada perdagangan 8 April 2026. Sebanyak 623 saham menguat, 101 saham melemah, dan 95 saham tidak berubah. Total frekuensi perdagangan tercatat 2.429.238 kali, dengan volume 43,1 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp 22,9 triliun. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 17.005.
Seluruh sektor saham ditutup menguat. Sektor basic melonjak 8,79% dan menjadi penguatan terbesar. Sektor energi naik 3,85%, industri menguat 6,06%, consumer nonsiklikal bertambah 3,12%, consumer siklikal naik 4,39%, kesehatan menguat 1,85%, keuangan naik 2,63%, properti menguat 3,55%, teknologi naik 4,19%, infrastruktur menguat 6,27%, serta transportasi naik 3,37%. Sementara itu, indeks LQ45 bertambah 4,56% menjadi 733,62.
Meski penguatan terjadi secara luas, para analis menilai volatilitas pasar masih berpotensi tinggi, mengingat sentimen utama saat ini sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik yang dapat berubah dalam waktu singkat.