Gaya hidup anak muda yang kerap menonjolkan kesan mewah menjadi perhatian dalam program siaran “Ronda” di RRI Pro 2 Pontianak, Kamis (9/4/2026). Dalam diskusi tersebut, generasi muda diingatkan pentingnya mengelola keuangan secara bijak agar tidak terjebak pola hidup yang melampaui kemampuan finansial.
Sanidi dari PKBI Kalbar menyampaikan bahwa fenomena “lifestyle glowing” kerap muncul karena dorongan untuk mendapatkan validasi sosial. Namun, bila dijalani dengan memaksakan diri tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, hal itu dapat berujung pada masalah finansial.
Menurutnya, gaya hidup yang tampak mewah di permukaan bisa berdampak pada penurunan saldo hingga memicu utang atau ketergantungan pada pinjaman online jika tidak disesuaikan dengan kemampuan. Ia pun mengajak anak muda mulai membuat perencanaan pengeluaran yang realistis.
Dalam kesempatan itu, Sanidi membagikan strategi pengelolaan keuangan melalui metode 50/30/20. Metode ini membagi penghasilan menjadi 50 persen untuk kebutuhan pokok seperti makan dan transportasi, 30 persen untuk keinginan seperti hiburan atau nongkrong, serta 20 persen untuk tabungan atau investasi masa depan.
Ia juga memberikan sejumlah tips agar kondisi keuangan tidak “boncos”, salah satunya dengan menunda keputusan belanja. Caranya, menyimpan barang di keranjang belanja selama 24 jam sebelum benar-benar dibeli, sehingga ada waktu untuk menilai kembali apakah barang tersebut memang dibutuhkan.
Sanidi menyarankan anak muda mencari alternatif yang lebih hemat, misalnya membuat kopi sendiri di rumah dibandingkan sering membeli di kedai. Selain itu, penggunaan aplikasi pencatat keuangan dinilai dapat membantu memantau pengeluaran secara rutin.
Ia menambahkan, anak muda juga perlu berani menolak ajakan nongkrong ketika kondisi keuangan tidak memungkinkan. Menurutnya, pengaturan prioritas pengeluaran menjadi kunci agar keuangan tetap sehat.
Selain pengelolaan pengeluaran harian, Sanidi menekankan pentingnya investasi “leher ke atas”, yakni penggunaan dana untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, seminar, maupun buku. Ia menilai investasi pada pengetahuan akan memberikan manfaat jangka panjang.
Dalam diskusi tersebut juga disebutkan bahwa biaya hidup mahasiswa di Pontianak berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan di luar biaya kos. Sementara standar umum untuk non-mahasiswa dapat mencapai sekitar Rp3 juta per bulan. Dengan pengelolaan keuangan yang tepat, anak muda diharapkan dapat menjalani gaya hidup yang seimbang tanpa mengorbankan stabilitas finansial.