BERITA TERKINI
AllianzGI: Pasar Tetap Konstruktif Meski Ketidakpastian Global Meningkat pada Kuartal II 2026

AllianzGI: Pasar Tetap Konstruktif Meski Ketidakpastian Global Meningkat pada Kuartal II 2026

Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai kondisi pasar pada kuartal kedua 2026 masih akan menantang di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun, perusahaan menegaskan pandangannya bahwa pasar tetap konstruktif terhadap perkembangan ekonomi dunia, dengan peluang yang masih terbuka seiring pemulihan ekonomi di sejumlah kawasan.

AllianzGI menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong naiknya harga energi dan memperbesar ketidakpastian. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan efek stagflasi terhadap pertumbuhan dan inflasi. Di sisi lain, investasi struktural disebut masih menopang momentum ekonomi global, terutama pada sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dalam situasi pasar yang volatil, AllianzGI menekankan pentingnya keyakinan dan disiplin investor. Menurut penilaiannya, meski risiko jangka pendek meningkat, peluang tetap tersedia. Karena itu, pendekatan investasi yang selektif dan berorientasi jangka panjang dipandang menjadi kunci untuk menavigasi ketidakpastian.

Dalam laporan House View Q2 2026 yang dikutip Jumat, 10 April 2026, AllianzGI memperkirakan ekonomi global masih berada dalam tekanan, namun tetap bertahan. AllianzGI juga menilai harga minyak pada kisaran 90 hingga 110 dolar AS masih dapat dikelola, meski ada risiko apabila level harga tersebut bertahan lebih lama karena dapat menekan pertumbuhan dan stabilitas harga.

AllianzGI menekankan pentingnya diversifikasi dalam portofolio jangka panjang, dengan fokus pada kualitas imbal hasil (quality carry) serta tema ekuitas yang selaras dengan otonomi strategis dan AI. Terkait dolar AS, AllianzGI menyatakan tetap berhati-hati, meskipun mengakui adanya penguatan jangka pendek karena statusnya sebagai aset safe haven.

Chief Economist AllianzGI, Dr. Christian Schulz, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan melambat pada pertengahan 2026 setelah awal tahun yang dinilai cukup kuat. Ia menilai kenaikan biaya energi berpotensi menjaga inflasi di sekitar tiga persen, atau kembali berada di atas target dua persen yang ditetapkan Federal Reserve.

Schulz menyebut kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral menunda penurunan suku bunga acuan, dengan proyeksi suku bunga berada di sekitar 3,5 persen pada akhir 2026.

Untuk Eropa, ia memperkirakan pertumbuhan moderat pada 2026 di kisaran 1 hingga 1,5 persen, dengan dorongan positif dari Jerman. Namun, kenaikan harga energi dinilai berpotensi mendorong inflasi zona euro melampaui target dua persen Bank Sentral Eropa (ECB).

“Dalam kondisi ini, kami menilai kemungkinan tidak ada penurunan suku bunga ECB tahun ini, dan ambang untuk kenaikan suku bunga relatif rendah,” kata Schulz.

Sementara di Asia, Schulz menilai prospeknya beragam. Saat stimulus fiskal di Tiongkok mulai berkurang, Jepang justru disebut mendapat dorongan dari peningkatan belanja pemerintah. Ia memperkirakan kondisi itu dapat mendorong Bank Sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin tahun ini.