Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Wiwiek Rabiatul Adawiyah, menilai pemanfaatan model Global Trade Analysis Project (GTAP) penting untuk mendukung proyeksi dan simulasi kebijakan ekonomi yang lebih komprehensif serta berbasis data.
Pernyataan tersebut disampaikan Wiwiek saat memberikan sambutan dalam “Workshop Aplikasi Model GTAP untuk Analisis Kebijakan” yang digelar di Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsoed, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin. Wiwiek yang juga Dekan FEB Unsoed mengatakan dinamika ekonomi global dan nasional menuntut peningkatan kapasitas analisis para ekonom.
Menurutnya, para ekonom tidak hanya dituntut memahami fenomena ekonomi, tetapi juga perlu mampu melakukan simulasi dan proyeksi kebijakan secara terukur. Ia menyebut model ekonomi seperti GTAP dapat membantu melakukan simulasi dan proyeksi kebijakan secara menyeluruh.
Workshop tersebut diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bekerja sama dengan FEB Unsoed dan Bank Indonesia. Wiwiek menyebut kegiatan ini menjadi sarana strategis untuk meningkatkan kompetensi akademisi, peneliti, dan praktisi ekonomi.
Ia menjelaskan, peserta kegiatan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga mahasiswa. Keberagaman peserta diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam perumusan kebijakan ekonomi.
Kegiatan berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, peserta mengikuti pelatihan aplikasi model GTAP. Hari kedua dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto.
Wiwiek mengatakan FGD akan mengangkat tema pengelolaan sampah menjadi energi (waste to energy), yang dinilai relevan dengan praktik di Kabupaten Banyumas sebagai salah satu daerah yang memiliki pengalaman dalam pengembangan program tersebut. Wiwiek juga menjabat Ketua ISEI Cabang Purwokerto.
Lebih lanjut, ia menyebut ISEI Cabang Purwokerto berperan sebagai mitra pemerintah daerah dalam memberikan masukan terkait pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengendalian inflasi, serta kebijakan ekonomi lokal. Selain itu, ISEI juga berperan sebagai pusat pemikiran ekonomi regional yang aktif mendiseminasikan hasil riset dan mendorong pengabdian masyarakat berbasis penelitian.
Dalam konteks daerah seperti Banyumas dan sekitarnya, kemampuan proyeksi serta analisis kebijakan ekonomi dinilai penting untuk menjawab beragam tantangan, mulai dari peningkatan daya saing produk lokal, pengembangan UMKM, hingga respons terhadap perubahan kebijakan perdagangan dan investasi.
Karena itu, Wiwiek berharap peserta workshop tidak hanya memahami aspek teknis penggunaan model GTAP, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam riset dan perumusan kebijakan nyata, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dan berharap kolaborasi antara akademisi, pemerintah, serta otoritas ekonomi dapat terus diperkuat untuk mendorong pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.