Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai penyesuaian proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia mencerminkan dinamika global yang juga dialami banyak negara. Menurutnya, di tengah fluktuasi tersebut, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan karena mampu tumbuh di atas rata-rata global dengan dukungan sektor domestik serta kebijakan pemerintah yang adaptif.
“Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah,” ujar Airlangga.
Airlangga menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Bank Dunia masih berada di atas rata-rata pertumbuhan global yang disebutnya sebesar 3,4 persen. Ia menyatakan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat sesuai harapan, seraya menunggu hasil kinerja ekonomi pada kuartal I 2026.
“Pertumbuhan global rata-rata kan 3,4 persen, tapi kalau Indonesia sendiri optimis karena nanti di kuartal I (2026) lihat saja hasilnya seperti apa,” ungkapnya.
Pandangan senada disampaikan Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berpotensi berada di atas proyeksi Bank Dunia, meski menurutnya akan sulit menembus level 5 persen.
“Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembuh 5 persen,” tuturnya.
Wijayanto memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih berpotensi mencapai sekitar 5,5 persen, ditopang faktor musiman seperti momentum Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Lebaran.
Namun, ia memprediksi perekonomian pada kuartal II hingga IV akan menghadapi sejumlah tekanan, antara lain penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, serta ketidakpastian global yang mendorong investor bersikap wait and see. Ia juga menilai El Nino yang melanda Indonesia dapat memperburuk kondisi tersebut.
Di tengah tantangan itu, Wijayanto menyebut pertumbuhan ekonomi pada 2026 akan sangat bergantung pada konsumsi domestik, dengan sejumlah sektor berpeluang menjadi motor pertumbuhan.
“Sektor yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan, antara lain perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,” jelasnya.
Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen pada Oktober 2025. Bank Dunia menyebut perlambatan dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional.
Meski demikian, Bank Dunia tetap menilai Indonesia memiliki penyangga ekonomi, seperti ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah, yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.