BERITA TERKINI
AI dan UMKM: Pertaruhan Inklusi Teknologi di Tengah Perubahan Global

AI dan UMKM: Pertaruhan Inklusi Teknologi di Tengah Perubahan Global

Di tengah dunia yang kian terfragmentasi—ditandai rivalitas geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan perubahan teknologi yang melaju eksponensial—Indonesia berada pada persimpangan yang sunyi namun menentukan. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kerap dipandang sebagai arena perlombaan negara besar, terutama Amerika Serikat dan China, sekaligus ajang unjuk kekuatan laboratorium teknologi dan modal global.

Namun, pertanyaan yang lebih dekat dengan realitas masyarakat adalah apakah AI akan memperkuat rakyat atau justru menjauhkan mereka dari pusat pertumbuhan. Di titik inilah ujian sesungguhnya bagi arah pembangunan Indonesia.

Pembangunan selama ini sering dibayangkan sebagai proyek-proyek besar, seperti jalan tol, pelabuhan, kawasan industri, atau investasi bernilai triliunan rupiah. Sementara itu, Indonesia juga ditopang oleh gerak ekonomi dari bawah yang hadir dalam wujud konkret: lebih dari 60 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Mereka mencakup pedagang pasar, pengrajin desa, pelaku usaha mikro di kota-kota kecil, hingga pelaku ekonomi digital yang bertumbuh melalui ruang-ruang internet.

Di saat yang sama, revolusi AI datang tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Perubahan terjadi senyap, menggeser cara bekerja, berproduksi, dan berinteraksi. Konsekuensinya jelas: pelaku usaha dihadapkan pada pilihan untuk beradaptasi atau tertinggal.

Kecemasan di kalangan pelaku usaha pun muncul. Kekhawatiran soal hilangnya pekerjaan dan tergantikannya peran manusia bukanlah hal baru dalam sejarah disrupsi teknologi. Namun, AI juga dipandang sebagai alat yang dapat memperbesar kapasitas manusia, terutama dengan mengambil alih pekerjaan yang repetitif, administratif, dan mekanis, sehingga manusia dapat lebih fokus pada berpikir, mencipta, dan membangun relasi.

Dalam konteks UMKM, potensi itu dapat hadir dalam bentuk yang konkret: membantu pedagang kecil memahami perilaku konsumen, mendorong pengrajin mengembangkan produk yang selaras tren pasar, serta memperluas jangkauan pasar yang sebelumnya sulit dicapai. Dengan kata lain, AI dinilai bukan ancaman bila berada di “tangan yang tepat”.

Meski demikian, teknologi tidak berdiri sendiri. Arah pemanfaatannya bergantung pada kepemimpinan dan cara berpikir. Transformasi digital kerap gagal ketika teknologi dianggap bisa berjalan tanpa perubahan pola pikir. Dalam adopsi AI, peran pemimpin tidak terbatas pada pejabat atau direksi perusahaan besar. Pemimpin juga bisa berarti pemilik warung, pengusaha kecil, kepala koperasi, hingga pelaku UMKM yang memutuskan mencoba hal baru. Mereka tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi dituntut memiliki keberanian belajar dan kemampuan beradaptasi.

AI juga sering dipersempit sebagai alat efisiensi—mengurangi biaya, mempercepat proses, atau menggantikan tenaga kerja. Padahal, peluang yang lebih besar berada pada pertumbuhan. Dengan AI, UMKM berpeluang mengidentifikasi kebutuhan pasar secara lebih akurat, mengembangkan produk yang lebih relevan, meningkatkan kualitas layanan pelanggan, dan memperluas skala usaha.

Di Indonesia, hal ini menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi kerap terkendala produktivitas yang rendah dan struktur pembiayaan yang terbatas. AI dipandang menawarkan jalur pertumbuhan berbasis pengetahuan dan inovasi, bukan semata-mata modal.

Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan nyata. Pertama, literasi: banyak pelaku UMKM belum memahami cara kerja AI, apalagi memanfaatkannya secara strategis. Kedua, tata kelola: isu penggunaan data, privasi, dan keamanan menjadi semakin krusial, terutama pada sektor keuangan dan layanan publik.

Meski demikian, tantangan itu dinilai bukan alasan untuk menunda. Peran negara dianggap penting, bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pihak yang membuka ruang inovasi sekaligus menjaga keseimbangan. Pendekatan seperti sandbox regulasi, pelatihan digital, dan integrasi ekosistem disebut sebagai kunci agar manfaat teknologi tidak hanya dinikmati segelintir pihak, melainkan dapat menjadi milik bersama.

Dalam perlombaan AI global, Indonesia mungkin tidak menonjol dalam ukuran sempit seperti jumlah paten, kekuatan komputasi, atau dominasi platform. Namun, Indonesia memiliki skala sosial yang besar dan potensi inklusi yang luas. Jika AI dapat diadopsi oleh jutaan UMKM, dampaknya dinilai akan melampaui sekadar kemenangan teknologi: menjadi alat pemerataan, menjembatani desa dan kota, serta memperkuat fondasi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, perubahan tidak terjadi otomatis. Ia membutuhkan keberanian untuk belajar, mencoba, dan berubah—seperti gagasan bahwa Indonesia tidak akan besar hanya karena “obor di Jakarta”, melainkan karena “lilin-lilin kecil di desa” yang menyala dalam diam. Di tengah kebisingan kompetisi global, jalan sunyi inilah yang disebut dapat ikut membentuk masa depan Indonesia.