Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2026. Perkiraan itu sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun lalu yang tercatat 5,1%, namun masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.
Dalam laporan Asian Development Outlook edisi April 2026, ADB menyebut proyeksi pertumbuhan tersebut ditopang permintaan domestik yang dinilai tetap kuat. ADB juga mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi membebani prospek ekonomi Indonesia.
Selain pertumbuhan, ADB memperkirakan inflasi Indonesia berada di kisaran 2,5% sepanjang 2026. Angka itu masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1%.
Meski prospeknya dinilai positif, ADB menyoroti sejumlah risiko eksternal yang perlu diwaspadai. Ketegangan geopolitik global yang belum mereda serta fluktuasi harga komoditas energi disebut dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
ADB juga menilai kebijakan moneter negara maju, terutama Amerika Serikat, yang diperkirakan tetap ketat dalam jangka waktu lebih lama dapat memicu volatilitas aliran modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi, ADB menyarankan pemerintah mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan produktivitas dan daya saing. ADB menilai optimalisasi penerimaan negara serta efisiensi belanja penting untuk menjaga ruang fiskal menghadapi potensi guncangan ekonomi global.
ADB turut menekankan pentingnya pertumbuhan lapangan kerja formal di sektor manufaktur untuk mendukung transformasi struktural yang inklusif. Sementara itu, sektor pertanian masih menyerap banyak tenaga kerja, tetapi produktivitasnya dinilai relatif rendah dan tingkat informalitasnya masih tinggi.