BERITA TERKINI
ADB Nilai Ekonomi Indonesia Lebih Tahan di Tengah Ketidakpastian Global, Ditopang Permintaan Domestik

ADB Nilai Ekonomi Indonesia Lebih Tahan di Tengah Ketidakpastian Global, Ditopang Permintaan Domestik

JAKARTA — Di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik dan tekanan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh berkat kuatnya permintaan domestik. Kondisi tersebut disebut berpotensi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kepala Ekonomi Asian Development Bank (ADB) Albert Park mengatakan kawasan Asia Pasifik menghadapi perlambatan pertumbuhan akibat dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah. Menurutnya, konflik yang berkepanjangan menjadi risiko terbesar bagi proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi risiko terbesar proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Karena konflik menyebabkan tingginya harga energi dan pangan, kondisi keuangan juga lebih ketat,” kata Park.

Meski begitu, ADB menilai Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif lebih kuat dibanding sejumlah negara lain di kawasan. ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, meningkat dari 5,1 persen pada 2025.

Park menyebut ketahanan tersebut ditopang faktor domestik yang solid. “Ketangguhannya didukung permintaan domestik yang masih bagus, pasar tenaga kerja yang stabil dan pengeluaran infrastruktur publik yang lebih tinggi,” ujarnya.

Optimisme serupa disampaikan pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat menghadapi gejolak global, terutama yang dipicu perang.

“Kita optimistis dan sudah menunjukkan fakta bahwa ekonomi kita kuat menghadapi berbagai kondisi global terutama perang. Insya Allah kita akan bekerja total untuk kita memiliki daya tahan atau daya kekuatan menghadapi krisis yang terjadi di tingkat global terutama akibat perang. Kita kuat, fondasi ekonomi kuat,” ujarnya.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia mencatat keyakinan konsumen masih berada pada level tinggi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat.

“Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 yang berada pada level optimis sebesar 122,9,” ujarnya.

Sementara itu, Ekonom INDEF Didik J. Rachbini menilai tekanan global dapat menjadi momentum untuk melakukan transformasi ekonomi. “Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen,” katanya.

Dengan kombinasi permintaan domestik yang kuat, kebijakan pemerintah yang adaptif, serta optimisme pelaku ekonomi, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang kokoh untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas di tengah dinamika global.